

inNalar.com – Sebuah desa di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim) ini miliki cara unik lantaran berhasil bangkitkan ekonomi mereka melalui alih fungsi lahan kosong terbengkalai.
Lokasi desa yang berada di wilayah lahan rawa Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur ini letaknya di tepi anak Sungai Mahakam, yakni Sungai Belayan.
Sebagian besar rumah penduduk desa di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur ini bentuknya seperti rumah panggung layaknya khas bangunan di daerah Kalimantan pada umumnya.
Baca Juga: SDA Incaran China! Daerah di Sumatera Utara Ini Simpan Pasir Kuarsa Sekitar 225 Ribu Ton
Namun, tak jauh dari wilayah desa pelosok di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara ini terdapat banyak ‘rumah pencakar langit’ yang nampak menjulang tinggi berjejer rapi di hamparan lahan kosong seluas 100 hektare.
Namun bentuk ‘rumah pencakar langit’ ini dibangun dengan bahan dasar kayu, bukan beton atau bahan dasar bangunan mewah lainnya.
Rupanya ‘rumah pencakar langit’ tersebut bukan dihuni oleh para penduduk desa pelosok di Kalimantan Timur, melainkan dihuni oleh burung walet.
Maka jangan heran apabila kita berkunjung ke desa di Kota Bangun ini bakal mendengar banyak cuitan burung saling bersahut sepanjang waktu
Kampung penghasil sarang burung walet ini bernama Desa Sebelimbingan, tepatnya di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Jika diperhatikan lebih lanjut, rumah walet yang tersebar di lahan seluas 100 hektare hampir menyamai jumlah rumah warganya sendiri.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2022, Desa Sebelimbingan diketahui dihuni oleh 584 jiwa yang sebagian besar penghasilan mereka dihasilkan dari liur burung walet ini.
Sementara rumah walet di Desa Sebelimbingan jumlahnya mencapai ratusan ‘rumah pencakar langit’.
Pada dasarnya sebagian besar mata pencaharian penduduk desa ini berprofesi sebagai petani dan nelayan, tetapi penghasilan yang didapatkan dari ternak sarang burung walet cukup menjanjikan.
Lokasi rumah burung walet yang tak jauh dari rumah para penduduk desanya membuat mereka bisa cepat mencegah terjadinya kebakaran hutan di kawasan hutan desa yang tak jauh dari rumah walet tersebut.
Desa yang luasnya 4.925 hektare ini sudah cukup masyhur di kalangan para pengepul sarang burung walet, sehingga di waktu panen tertentu mereka secara otomatis datang ke desa ini.
Dilansir dari penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, warga desa ini membangun ratusan rumah sarang burung walet yang harga produktif per kilogramnya bisa mencapai Rp 12 juta.
Penetapan harga pun bakal bervariasi tergantung dari seberapa tua usia rumah bangunan walet dan seberapa besar biaya perawatannya.
Menariknya, Desa Sebelimbingan pernah diteliti oleh Kemenlhk dan Perusahaan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit atau GIZ.
Penelitian yang merupakan hasil kerja sama antara kedua belah pihak tersebut ternyata didanai oleh Kementerian Federal Jerman.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi