Kejam! Penyiksaan dan Pembunuhan Politikus Asal Maumere Ini Menyisakan Luka Mendalam, Ada yang Tau Siapa?

inNalar.com– Pada hari Selasa, 1 Maret 1966, sebuah kota kecil di pantai utara Flores yang dikenal dengan nama Maumere menjadi saksi dari salah satu tragedi kemanusiaan  yang paling mengerikan dalam sejarahnya.

Kota kecil ini, yang saat itu hanya berpenduduk sekitar 2.000 jiwa, menjadi saksi bisu dari akhir hidup seorang pria bernama Jan Djong yang disiksa dan dibunuh.

Jan Djong adalah seorang politikus berusia 48 tahun yang dikenal di seluruh kota Maumere.

Jan Djong adalah sosok yang penuh semangat dan menjadi tokoh terkemuka di masyarakatnya.

Baca Juga: Habiskan Dana Rp 1,3 Triliun, SPAM Bandar Lampung Malah Rugi Rp 12 Miliar Lebih! Kok Bisa?

Namun, nasib buruknya tak terelakkan. Pada akhir Januari atau awal Februari 1966, ia ditangkap oleh aparat keamanan. Bersama dengan tokoh terkenal lainnya, ia mengalami penyiksaan yang mengerikan.

Para politikus tersebut ditahan diarak keliling kota Maumere yang terik dengan kondisi bertelanjang kaki.

Bajunya dilucuti, dan celana dalam yang biasa digunakan di Indonesia saat itu dengan tali sebagai ikat pinggang pun dilepaskan sehingga seringkali merosot.

Baca Juga: Habiskan Dana Rp 23,5 M, Jalan Dua Jalur yang Dibangun Pemkab Tubaba Lampung Ini Miliki 4 U-Turn

Selama berbulan-bulan berikutnya, para tahanan dipaksa untuk berbaris dan berjalan jongkok dengan tangan di belakang kepala dari penjara menuju Kodim yang terletak beberapa ratus meter ke arah timur, di mana mereka akan diinterogasi.

Mereka pergi pagi dan kembali sore. Para penyiksa dengan kejam memerintahkan mereka untuk bernyanyi dan menari di sepanjang jalan, sementara mereka yang sudah diparangkan hanya bisa bergerak terhuyung-huyung.

Pada suatu titik, Jan Djong, seorang penganut Katolik, merasa bahwa saat terakhirnya telah tiba.

Baca Juga: Ciptakan Transisi Energi Kendaraan Listrik Menjadi Transportasi Utama dalam KTT ASEAN 2023 di Jakarta

Ia memohon kepada sipir penjara agar dipanggilkan seorang pastor untuk menerima pengakuan dosanya dan menerima sakramen perminyakan.

Namun, permohonannya ditolak dan seorang dari para penyiksa bahkan menghina dengan mengencingi wajahnya. Ini adalah contoh kekejaman yang tak berperikemanusiaan.

Ketika kematian mendekat, Jan Djong dihadapkan pada kenyataan yang tak terelakkan. Ia dikubur di tepi sungai, tepat di luar dinding penjara yang menjadi saksi bisu dari penderitaannya.

Baca Juga: FDI Tembus hingga Rp 3.407 Triliun! Banyak Investor Asing Tertarik Investasi ke ASEAN, Berikut Alasannya

Yang lebih menyakitkan lagi, para pelaku penyiksaan ternyata adalah warga lokal sipil yang beragama Katolik seperti Djong, serta pegawai di berbagai kantor pemerintahan.

Mereka saling mengenal, dan mungkin itulah yang membuat kekejaman semakin tidak terlunak.

Namun, tragedi ini tidak berhenti hanya pada kematian Jan Djong. Setidaknya 800 hingga 1.500 orang lainnya dikumpulkan di sekitar kabupaten Sikka, Flores.

Baca Juga: Gulung Tikar Usai Berdiri Selama 31 Tahun, Pabrik di Banten Ini PHK 1.163 Karyawan, Disnaker Akan Beri…

Mereka diangkut dengan truk untuk kemudian dibunuh dan dikuburkan dalam sebuah pemakaman massal yang telah dipersiapkan di setiap kecamatan.

Salah satu lokasi pemakaman massal tersebut bahkan berada di tengah perkebunan kelapa yang dimiliki oleh misionaris Katolik di Maumere.

Yang membuat tragedi ini semakin mengejutkan adalah kenyataan bahwa semua korban dibunuh tanpa adanya interogasi atau alasan yang jelas.

Mereka tewas dalam keadaan yang mengerikan, menjadi korban dari kekejaman yang tak berperikemanusiaan.

Baca Juga: Berdiri Sejak 2006, Sekolah Mewah Milik Pabrik Gula Terbesar di Lampung Ini Ternyata Dibangun Khusus Untuk…

Peristiwa tragis di Maumere ini adalah sebuah kenangan yang harus diingat oleh kita semua.

Ini adalah pengingat akan kekejaman manusia terhadap sesamanya dan bahkan terhadap mereka yang sama-sama beragama.

Kita harus berusaha agar kejadian serupa tidak pernah terulang, dan menjaga kemanusiaan dalam segala kondisi adalah tugas kita bersama.***

 

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]