

inNalar.com – Melakukan i’tikaf di masjid saat bulan ramadhan menjadi salah satu ibadah istimewa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Bulan Ramadhan menjadi momentum bagi umat muslim untuk berlomba-lomba melakukan ibadah sebaik-baiknya guna meraih pahala dan ampunan dari Allah SWT. Salah satunya dengan melakukan i’tikaf.
Ibadah i’tikaf memiliki keistimewaan yang luar biasa. Namun, sebelum membahas lebih jauh mengenai keistimewaan i’tikaf, ada baiknya kita menyimak kisah Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan ibadah tersebut.
Ibadah i’tikaf Nabi Muhammad SAW sebelum mendapatkan wahyu
Hobi berdiam diri, menyendiri di tempat yang aman dari gangguan sudah dilakukan sebelum Muhammad diutus menjadi Nabi. Akan tetapi kegiatan itu dulu namanya bukan i’tikaf melainkan tahanus. Beliau melakukan kegiatan itu di Gua Hira.
Menurut Khadijah R.a, Nabi biasa bertahanus di Gua Hira saat bulan Ramadhan. Jika bekalnya sudah habis beliau akan turun mengambil bekal dari rumahnya dan kembali lagi ke tempat beliau menerima wahyu itu.
Setelah menerima wahyu, Nabi tidak pernah lagi ke Gua Hira karena itu bukan syari’at Islam. Beliau ke Gua Hira karena diusir dari Tha’if dan tidak bisa pulang ke kota Mekkah.
Lalu, bagaimana dengan ibadah i’tikaf setelah mendapatkan wahyu?
Nabi membiasakan i’tikaf di depan Ka’bah. Tercatat dalam sejarah bahwa i’tikaf Nabi sepulang dari Tha’if lalu beliau ke Gua Hira menjadi peristiwa yang diselimuti adegan mengharukan.
Baca Juga: Mau Mempunyai Keturunan yang Sholeh dan Sholeha? Simak Amalan Berikut Ini dari Syekh Ali Jaber
Saat di Gua Hira beliau dijemput oleh seorang laki-laki bernama Muth’im Ibn ‘Adi. Nabi Muhammad SAW diberikan jaminan bisa masuk kota Mekkah.
Setelah Nabi Muhammad SAW masuk kota Mekkah, beliau tidak tahu harus tinggal dan bermalam di rumah siapa. Akhirnya, Nabi bermalam dan beri’tikaf di depan Ka’bah.
Ini merupakan i’tikaf paling fenomenal yang dilakukan Nabi Muhammad SAW sebelum hijrah ke Madinah. Beliau masuk ke area Ka’bah lalu sholat dan berdzikir di sana.
Sampai karena saking lelahnya Nabi seharian dikejar-kejar di Tha’if, beliau tertidur tepat di depan Multazam (pintu Ka’bah).
Tidak lama ketika Nabi tertidur, Allah mengutus malaikat Jibril dengan kendaraan buraqnya kemudian mengajak Nabi melakukan perjalanan Isra dan Mi’raj. Itulah adegan i’tikaf yang terekam dalam sejarah sebelum Nabi hijrah ke Madinah.
Sejak saat itu i’tikaf menjadi salah satu ibadah istimewa Nabi di bulan ramadhan yang dikhususkan di masjid Nabawi sebagaimana hadits Aisyah R.a yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim.
Aisyah R.a mengatakan Nabi selalu beri’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan sampai beliau kembali kepada Allah SWT. Setelah beliau wafat tradisi itu diteruskan oleh keluarganya.
Selain adegan mengharukan, ada juga momen i’tikaf romantis dan lucu di zaman Nabi. Hal itu terjadi ketika Nabi sedang berdiam diri di masjid Nabawi dan beliau tidak mau keluar dari tempat ibadah itu.
Baca Juga: Kunci Jawaban Tema 4 Kelas 3 SD MI Halaman 125 126 127 128 129 Buku Tematik Subtema 3 Pembelajaran 5
Aisyah mendatangi Nabi yang sedang i’tikaf untuk menyisir rambut Nabi di siang hari. Jadi, ketika Nabi selesai mandi pagi, Nabi meminta kepada Aisyah untuk merapikan rambut beliau secara romantis dengan disisir.
Keistimewaan I’tikaf
Mengutip dari YouTube Repost Dakwah Official, di antara keistimewaan i’tikaf yang disebutkan dalam hadits adalah sebagai berikut.
1. Sarana untuk Bisa Berduaan dengan Allah SWT
Di dalam i’tikaf kita belajar khalwah, kita belajar Al unsu Billah (berduaan dengan Allah). Jadi i’tikaf itu bukan kumpul-kumpul bersama geng.
I’tikaf menjadi kesempatan bagi kita untuk bisa berduaan dengan Allah karena setahun ini mungkin kita tidak punya waktu untuk melakukannya karena sibuk dengan pekerjaan, sampai di rumah badan sudah lelah kemudian istirahat.
Saat ke masjid, mungkin kita hanya sholat langsung balik lagi ke rumah. Kita tidak sempat curhat kepada Allah, tidak sempat munajah dengan Allah, tidak sempat dzikir yang tenang hanya mengingat Allah. Maka, i’tikaf menjadi momen yang tepat untuk melakukannya.
Baca Juga: Link Live Streaming Jepang vs Kosta Rika di Piala Dunia 2022 Grup E, Ritsu Doan Siap Cetak Gol Lagi?
I’tikaf adalah hobinya para Anbiya. Bahkan, Nabi Sulaiman di akhir hayatnya menghabiskan waktu dengan berdiam diri di masjid atau musholahnya sampai beliau wafat.
Begitu juga dengan para sahabat. Mereka ada yang wafat dalam keadaan sedang beri’tikaf seperti Utsman bin Affan yang melakukan ibadah itu antara Ashar sampai Maghrib sambil membaca Al-Qur’an.
2. I’tikaf pahalanya seperti berjihad
Di antara keistimewaan i’tikaf ialah siapa yang melakukannya seperti orang berjihad. Sungguh beruntung apabila i’tikafnya sampai ditakdirkan Allah bertepatan dengan malam Lailatul Qadar dari sepuluh malam terakhir ramadhan. Mengapa?
I’tikaf yang dilakukan saat malam lailatul qadar seperti berjihad lebih dari seribu bulan. Bisa dibayangkan pahala yang akan didapat.
Sekali beri’tikaf pahalanya seperti berjihad. Namun, jika i’tikafnya pada malam Lailatul Qadar artinya ia berjihad seribu bulan. Sama seperti berjihad selama 100 tahun.***