Keinginan atau Keperluan: Mengendalikan Nafsu untuk Hidup Lebih Bahagia

InNalar.com – Kita semua memiliki keinginan dan keperluan. Tapi, dua hal tersebut seringkali kita salah artikan.

Keinginan seperti lapangan hijau yang luas, selalu ada sesuatu baru yang muncul menarik perhatian kita.

Namun, keperluan adalah fondasi realistis yang mendukung kualitas hidup kita. Manakah yang lebih penting? Mari kita gali lebih dalam.

Memahami perbedaan antara keinginan dan keperluan dapat menjadi kunci untuk kehidupan yang lebih berarti dan memuaskan.

Ada perbedaan yang signifikan di antara keduanya. Keinginan bersifat sementara dan seringkali digerakkan oleh nafsu, sedangkan keperluan bersifat fundamental untuk hidup kita.

Baca Juga: Tidak Ada Manusia Bodoh , Kisah Imam Bukhari: Optimisme dalam Menuntut Ilmu Menurut Ustadz Adi Hidayat

Contohnya, ketika menimbang antara membeli jam tangan mewah atau yang berkualitas namun lebih terjangkau, pilihannya mengungkapkan nilai kita.

Pertama diarahkan oleh keinginan untuk mendapatkan status dan pengakuan, sedangkan yang kedua mencerminkan penghargaan kita terhadap fungsi dan kualitas.

Namun, sayangnya, dalam masyarakat kita yang sering kali sangat fokus pada konsumsi, keinginan mudah melampaui keperluan.

Menurut sebuah ceramah oleh Aa Gym di channel youtube resminya, ini bisa mencuri waktu kita secara dramatis, dan bahkan bisa merasuki pikiran kita dalam momen sakral seperti waktu salat.

Baca Juga: Sulit Menahan Amarah dan Emosi ? Simak Kisah Sayyidina Musa Al Kadzim dalam Memaafkan Orang Lain

Menurutnya, yang terjadi adalah, kita akhirnya menjual waktu dan hubungan kita dengan Tuhan demi memenuhi keinginan-keinginan yang berfluktuasi ini.

Lalu apa hasilnya? Kita mungkin merasa senang sejenak, namun kepuasan itu cepat berlalu. Lalu, kita terjebak dalam siklus konstan mencari sesuatu yang lebih baik, lebih baru, lebih mewah.

Mempertimbangkan pernyataan ini, alangkah bijaksana jika kita menghargai kata-kata Aa Gym, “Yang paling nikmat dalam hidup ini adalah orang yang bisa mengendalikan nafsu.”

Pelajaran yang bisa kita petik? Menunda kepuasan sementara dan merenungkan apa yang benar-benar kita butuhkan.

Seperti memilih sepatu yang nyaman dan aman daripada yang mahal. Selain itu kita makan karena lapar, bukan karena kita tergoda oleh penampilan atau citarasa masakan itu.

Baca Juga: Pandangan Ustadz Abdul Somad Tentang Menyentuh Lawan Jenis dalam Dunia Akting, UAS Sarankan Seperti Ini

Tujuan akhirnya? Hidup dengan lebih memuaskan dan berarti, karena kita membuat keputusan berdasarkan apa yang kita perlukan, bukan apa yang kita inginkan.

Ingatlah, dalam kehidupan ini, yang paling berharga adalah waktu dan hubungan kita dengan Allah.

Jangan biarkan keinginan sementara menggerogoti dua harta berharga ini.

Sebagai individu yang independen dan ambisius, kita semua mampu membuat pilihan yang bijaksana.

Hargailah kebutuhan Anda dan kendalikan keinginan Anda. Itu merupakan langkah menuju kebahagiaan yang lebih besar.***

Rekomendasi