

inNalar.com – Masih ingat bagaimana kedahsyatan bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah pada tahun 2018 silam?
Tidak hanya menelan ribuan korban jiwa, rupanya beberapa infrastruktur termasuk Pelabuhan Teluk Palu ini pun jadi sasaran amukan kemarahan alam.
Padahal kegagahan infrastruktur laut bernama Pelabuhan Pantoloan ini disebut memiliki kapasitas yang mampu lampaui Dermaga Makassar dan Bitung.
Bagaimana tidak, dermaga ini sejatinya mampu menampung muatan barang hingga kapasitas 5 juta TEUs.
Meski tampungan peti kemas baru muat sekitar 300.000 TEUs, pelabuhan ini ditetapkan sebagai pusatnya logistik dan barang nasional, melansir dari BPKP Sulawesi Tengah.
Statusnya sebagai dermaga internasional pun dinilai genting untuk disegerakan perbaikan kerusakannya pasca bencana alam dahsyat.
Penting untuk diketahui, kerusakan infrastruktur laut ini tidak hanya terjadi pada Dermaga Pantoloan di Palu saja.
Pelabuhan Donggala dan Wani pun juga mengalami kerusakan yang cukup parah usai gempuran gempa dan tsunami tersebut.
Tentu kerusakan massal ini membutuhkan biaya perbaikan yang tidak sedikit, hingga akhirnya Pemerintah RI berhasil mendapatkan dana pinjaman dari bank asing.
Dana pinjaman yang mengucur tidak sedikit, yakni mencapai 70 juta USD atau apabila dirupiahkan sekitar Rp900 miliar.
Melalui program pendanaan yang dinamakan dengan Emergency Assistance for Rehabilitation and Reconstruction (EARR), akhirnya Asian Development Bank (ADB) berbaik hati menalangi dana perbaikan pelabuhan tersebut.
Jadi biaya perbaikan Pelabuhan Teluk Palu ini turut masuk ke dalam paket dana jumbo tersebut.
Baca Juga: Jadwal Siaran Langsung Malaysia Open 2024 di Stasiun TV Nasional, Jangan Sampai Terlewat!
Berkat sokongan dana tersebut, pengerjaan rekonstruksi dilakukan dalam waktu 10 bulan dan meliputi area fasilitas laut mau pun darat.
Adapun area yang diperbaiki tersebut meliputi bagian perkantoran hingga pelayanan umumnya.
Sementara untuk pelayanan sisi lautnya meliputi penambahan kapasitas struktur atas dermaganya.
Perbaikan ini tentu sangat menguntungkan, mengingat Pelabuhan Teluk Palu sangat diandalkan untuk bisa mendukung berkembangnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu.
Sebagai informasi, fungsi genting dari KEK Palu itu sendiri meliputi zona industri, pengolahan ekspor, dan logistik.
Lalu – lalang ekspor yang bakal terus dipacu dengan berdatangannya permintaan, tentu memerlukan peran pelabuhan strategis di dalamnya.
Beruntungnya progres perbaikan dermaga seluas 1.500 hektare ini diketahui telah rampung dan setelahnya perbaikan langsung dilakukan pemeliharaan hingga November 2023.
Kini, dermaga raksasa di Kota Palu ini pun akhirnya telah kembali beraktivitas secara normal seperti sedia kala.
Berkat sokongan dana pinjaman dari ADB, terminal laut tersibuk di Sulawesi Tengah akhirnya kembali menjadi andalan perekonomian daerahnya. ***