Kapasitas 150 Gbps, Meutya Hafid Pastikan Proyek Satelit SATRIA Ratakan Internet hingga Daerah 3T Indonesia

inNalar.com – Internet kini telah menjadi salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan kita, Namun di beberapa wilayah di Indonesia tidak kemajuan ini.

Khususnya di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), akses internet masih menjadi tantangan besar.

Untuk menjawab permasalahan tersebut pemerintah Indonesia meluncurkan proyek SATRIA (Sarana Akses Internet untuk Tertinggal).

Baca Juga: Dukung Inovasi Produk Kopi Aceh, Pemerintah Bangun Fasilitas Gedung Senilai Rp 100,3 Miliar

Ini adalah sebuah inisiatif ambisius yang bertujuan untuk meningkatkan konektivitas internet di wilayah-wilayah yang selama ini terabaikan.

Proyek SATRIA tidak hanya diharapkan dapat mendukung sektor pendidikan dan kesehatan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Salah satu komponen utama dari proyek ini adalah peluncuran satelit SATRIA-1 pada 19 Juni 2023.

Baca Juga: Investasinya Capai Rp 2 Triliun, Rumah Sakit Abdi Waluyo Siap Lengkapi Layanan Kesehatan Warga IKN

Satelit ini dirancang untuk melayani hingga 150 ribu titik layanan publik, termasuk sekolah-sekolah, pesantren, dan fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit.

Dengan kapasitas throughput mencapai 150 Gbps, satelit ini menawarkan tiga kali lipat kapasitas dibandingkan dengan satelit telekomunikasi sebelumnya.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menekankan pentingnya kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk PT Satelit Nusantara Tiga, dalam penyediaan layanan SATRIA-1 untuk pemerataan akses internet di daerah 3T.

Baca Juga: Jalan Tol Sepanjang 90 Km di Kalimantan Barat Siap Dibangun, Pontianak-Pelabuhan Kijing Bakal Makin Lancar!

Kini Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) menargetkan jumlah titik penerima sinyal atau terminal Stasiun Bumi Satelit SATRIA-1 mencapai 20.000 unit hingga akhir tahun 2024.

Meutya Hafid menjelaskan bahwa manfaat dari proyek ini sangat luas dan beragam hingga menjangkau berbagai sektor.

Dalam sektor pendidikan, adanya program ini memungkinkan siswa di daerah 3T untuk mengikuti pembelajaran daring dan mengakses berbagai sumber daya pendidikan yang sebelumnya sulit.

Baca Juga: Negara Maju Ketar Ketir Gegara Megaproyek Ambisius RI Senilai Rp56 Triliun di Jawa Timur, Ini Penyebabnya

Di bidang kesehatan, proyek SATRIA memberikan dorongan signifikan terhadap layanan telemedicine.

Sehingga masyarakat daerah 3T di wilayah Indonesia kini dapat mengakses informasi kesehatan dan konsultasi medis jarak jauh dengan lebih mudah.

Dari sisi ekonomi, proyek SATRIA ini membuka peluang baru bagi masyarakat setempat untuk memanfaatkan platform e-commerce.

Baca Juga: Kejar Momen Natal 2024, Gereja di Semarang Direvitalisasi dengan Anggaran Rp26 Miliar: Kapan Rampung?

Dengan adanya akses internet, pelaku usaha kecil dapat menjual produk lokal mereka secara online, meningkatkan pendapatan dan memperluas pasar mereka.

Proyek ini juga mendukung konektivitas untuk kantor-kantor pemerintahan desa dan kecamatan, memfasilitasi pelayanan publik berbasis elektronik yang lebih efisien.

Heru Dwikartono, Direktur Utama PT Satelit Nusantara Tiga, menyampaikan bahwa saat ini telah terpasang 18.501 terminal di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca Juga: Mentok di Era Jokowi, 6 Proyek Warisan Jalan Tol di Jawa Timur Ini Digesa Prabowo: Anggarannya Jumbo!

Dengan rincian mencakup 12.635 unit untuk pendidikan, 3.744 unit untuk kantor pemerintahan, dan sisanya tersebar di lokasi-lokasi penting lain.

Lokasi lain tersebut seperti kawasan wisata dan pusat kegiatan masyarakat. Lebih tepatnya adalah 105 unit di lokasi wisata dan 923 unit untuk pelayanan kesehatan.***

Rekomendasi