
inNalar.com – Kampung adat yang berada di pelosok Kabupaten Sukabumi ini punya satu tradisi unik turun-temurun yang diwariskan oleh para leluhur Jawa Barat sejak 1.368 masehi.
Bukan sekadar tradisi, dengan keyakinan bahwa para penduduknya harus menghindari satu dosa besar ini justru mereka mampu mengamankan cadangan pangan padi hingga 95 tahun ke depan.
Ya, rahasia swasembada pangan mereka adalah dengan menghindari satu dosa besar, apakah kamu bisa menebaknya?
Perkenalkan dahulu, inilah kasepuhan adat Cipta Gelar. Sebagai bagian dari tradisi yang menggenerasi, para warganya tinggal secara nomaden di sekitar Desa Sirnaresmi.
Desa Sirnaresmi sendiri letaknya di pelosok Kecamatan Cisolok, dekat dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Secara geografis, area pemukiman mereka menempati lokasi alam yang strategis. Pasalnya, kampung adat Cipta Gelar nyempil di ketinggian 1.200 mdpl.
Baca Juga: dr Zaidul Akbar Beri Resep Air Ajaib dari Zaman Nabi, Ampuh Obati Maag Saat Puasa, Sudah Coba?
Hawa terdingin yang bisa dirasakan di sana suhunya menyentuh 20 derajat celcius, sedangkan terpanasnya 26 derajat celcius. Bisa dikatakan cukup strategis untuk bercocok tanam.
Tradisi swasembada pangan kampung ini didukung dengan adanya kepemilikan tiga kawasan hutan tanah adat yang disebut dengan istilah Leuweng.
Ketiga hutan adat mereka mencakup Leuweng Titipan, Leuweng Tutupan, dan area persawahan Leuweng Bukaan.
Baca Juga: Mau Langsing Tanpa Nyiksa saat Puasa Ramadhan? Ikuti Cara Ini Kalau Mau Kurus!
Dengan lahan itulah para penduduk kampung adat di pelosok mencilnya Jawa Barat ini memanfaatkan kemampuan cocok tanam mereka demi mengumpulkan cadangan pangan mereka hingga puluhan tahun.
Lantas, dosa besar macam apa ya yang sangat dihindari para penduduknya hingga menjadi tradisi unik warisan hingga masa kekinian? Juru Bicara Kampung Cipta Gelar beberkan rahasianya.
Tentu saja, kemampuan para petani dalam berswasembada pangan selama bertahun-tahun belakangan tidak lepas dari usaha mereka memadukan teknik bertani secara tradisional dengan teknologi modern.
Namun ada tradisi unik yang menjadi hal penting untuk diingat para penduduknya. Yaitu, mereka dilarang memperjual-belikan beras.
Juru Bicara Kampung Adat Yoyo Yogasmana mengungkap, “Seseorang menjual beras itu ibaratnya menjual kehidupannya sendiri.”
“Omong hidup omong nyawa. Kalau di sini masuknya klasifikasinya dosa besar,” terangnya. Jadi, menurut Yoyo ketika penduduk kampungnya berani menjual beras maka itu berarti dia berani menghilangkan nyawa seseorang.
Tidak heran pula, kampung berpenduduk 30.000 jiwa di pelosok Kabupaten Sukabumi ini memiliki 28 lumbung padi.
Menariknya, jejeran lumbung padi yang dimiliki mereka diletakkan pada sisi terluar dan tertinggi kampungnya hingga bentuknya menyerupai formasi benteng.
Tahukah di antara lumbung beras yang mereka miliki ada yang riwayatnya tertua dan terbesar di Jawa Barat?
Nama lumbungnya adalah ‘Leuit Jimat’. Di dalamnya lah tersimpan 175 varietas padi unggul, melansir informasi dari YouTube Bingkai Desa.
Wah, Pemerintah RI dan penduduk negeri kita ada baiknya belajar sistem swasembada pangan dengan desa tua di Kabupaten Sukabumi ini.***