

inNalar.com – Kalimantan Selatan adalah satu wilayah di Indonesia yang tradisi-tradisinya masih dilestarikan sampai dengan masa modern ini.
Sebagian masyarakat di Kalimantan Selatan masih memegang teguh budaya dan tradisi yang sudah turun termurun sejak zaman leluhur.
Salah satu tradisi itu adalah tradisi Ba Arak Naga (arak-arakan naga).
Di Hulu Sungai Tengah tepatnya di Desa Barikin, Kec. Haruyan sekitar 135 km dari Kota Banjarmasin, tradisi Ba Arak Naga masih sering dilakukan.
Tradisi Ba Arak Naga dilakukan ketika ada yang menggelar acara hajatan atau pernikahan.
Dalam tradisi ini, pengantin akan diarak mengelilingi kampung dengan menaiki gerobak atau mobil yang sudah dihiasi dengan kepala naga dan dibuat seolah-olah mobil tersebut adalah naga yang sedang membawa pengantin berkeliling.
Tradisi Ba Arak Naga adalah tradisi yang biasanya dilakukan oleh garis keturunan Datu Tanura atau penduduk asli Desa Barikin.
Dahulu kala, tradisi ini biasanya dilakukan ketika ada anak dari tokoh Desa Barikin yang akan dinikahkan. Arak-arakan naga atau Ba Arak Naga digelar untuk membuat pesta pernikahan semakin meriah.
Diceritakan pada zaman dahulu, Ba Arak Naga dilakukan dengan para pengantn menaiki perahu yang dihias menjadi naga.
Para pengantin pada saat itu menyusuri sungai yang ada di Desa Sungai Harang, Kec. Haruyan, Kalimantan Selatan.
Namun, pada saat kedua pengantin menyusuri sungai sembari menyapa para warga, perahu naga itu tiba-tiba bergerakl-gerak seolah hidup.
Karena khawatir akan terjadi hal-hal tidak diinginkan kepada kedua pengantin, salah satu dari keluarga pengantin mencabut mandau (senjata khas suku Dayak) dan menebas kepala naga tersebut.
Dari terbasan tersebut, tidak terduga, darah bercucuran seakan naga tersebut benar-benar makhluk hidup dan bukan ornamen yang memang sengaja dipasang di perahu.
Setelah itu, perahu tersebut berhenti bergerak-gerak dan para pengantin pun selamat.
Tempat peristiwa ini terjadi saat ini dikenal oleh masyarakat sebagai Sungai Lok Laga atau teluk naga.
Sejak peristiwa ini, garis keturunan warga Barikin asli tidak lagi menggelar tradisi Ba Arak Naga dengan menyusuri sungai.
Mereka memilih untuk menggunakan mobil atau gerobak untuk terus melestarikan tradisi Ba Arak Naga.*** (Ralda Maya Runita)