

inNalar.com – Tim Astronom berhasil menemukan lubang hitam supermasif pemakan segala bintang, Sabtu 23 September 2023.
Lubang hitam tersebut diketahui berusia sekitar 11 miliar tahun, yang sebelumnya hilang dari angkasa.
Tim astronom menangkap momen langka itu menggunakan teleskop luar angkasa hubble.
Diketahui, lubang hitam tersebut memakan sejumlah bintang di sekitarnya.
Hal ini dibuktikan dengan cara astronom saat meneliti. Mereka melihat ada cahaya yang terpancar dari pusat galaksi.
Para astronom biasanya mengamati galaksi dengan memanfaatkan cahaya yang dipancarkan bintang terdekat.
Tapi hal itu tidak berlaku bagi lubang hitam supermasif yang masih menjadi misteri dalam dunia penelitian.
Baca Juga: Asam Urat Tak Kunjung Sembuh? Kata dr Cahyono, Hal Sepele Ini Ampuh Sembuhkan: Cukup Makan…
Galaksi mengeluarkan gelombang cahaya yang ditemukan di seluruh spektrum elektromagnetik.
“Untuk menemukan galaksi penyerap, pertama-tama kita mencari quasar yang berwarna merah,” kata Johan Fynbo, astronom di Cosmic Dawn Center.
“Karena debu bintang cenderung menyerap cahaya biru tetapi tidak menyerap cahaya merah, jika ada galaksi berdebu di latar depan, quasarnya akan memerah.”
Baca Juga: Raup Laba Rp3,5 Triliun, Pertambangan di Kalimantan Timur Ini Jual Produksi Batu Bara Sebesar…
Dia dan timnya telah melihat beberapa galaksi penyerap dengan menguraikan cahaya dari quasar yang memerah.
Namun setelah hal ini selesai, mereka dihadapkan pada tugas yang jauh lebih menantang: memburu cahaya yang dipancarkan oleh galaksi penyerap itu sendiri.
Para ilmuwan sendiri belum mengidentifikasi cahaya yang berasal dari lubang hitam supermasif berusia 11 miliar tahun tersebut
Baca Juga: Raup Laba Rp3,5 Triliun, Pertambangan di Kalimantan Timur Ini Jual Produksi Batu Bara Sebesar…
Galaksi itu, terlihat seperti ketika alam semesta berumur 13,8 miliar tahun dan baru berusia sekitar 3 miliar tahun.
Anehnya, lubang hitam misterius itu mernyerap lebih banyak cahaya dibandingkan galaksi lain yang sudah ditemukan.
Artinya, galaksi tersebut kemungkinan melebihi besarnya galaksi Bimasakti.
“Fitur yang kami temukan pada cahaya yang hilang memberi tahu kita sesuatu tentang debu di latar depan galaksi,” kata Lise Christensen, anggota tim penemuan dan astronom di Cosmic Dawn Center.