

inNalar.com – Berdasarkan hasil analisis dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), diungkapkan bahwa data Anak Tidak Sekolah (ATS) ditemukan lebih dari 3 juta jiwa.
Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji mengungkapkan bahwa jumlah ATS mencapai angka 3 juta tersebut sangat memperihatinkan.
Jumlah Angka Putus Sekolah (APS) untuk berbagai tingkat Pendidikan mencapai 76.834 jiwa secara keseluruhan.
Baca Juga: 5 Daerah Paling Sepi Penduduk di Nusa Tenggara Barat, Kebanyakan Ada di Pulau Sumbawa
Jumlah tersebut dibagi berdasarkan tingkat pendidikan yaitu SD sebanyak 40.623 orang, SMP sebanyak 13.716 orang, SMA 10.091 orang, dan SMK 12.404 orang.
Berdasarkan angka di atas, bisa ditemukan bahwa jumlah anak putus sekolah didominasi oleh tingkat SD.
Berdasarkan data dari Teknologi Informasi Kemdikburistek dalam Statistik dan Indikator Pendidikan Berwawasan Gender menunjukan bahwa jumlah siswa putus sekolah lebih banyak laki-laki daripada perempuan.
Baca Juga: Patah Hati Bikin Orang Jakarta Merasa Jadi Kaum Paling Tidak Bahagia, Kamu Relate?
Ditunjukkan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa pada tahun 2023, angka Anak Tidak Sekolah (ATS) mencapai 0,68 untuk laki-laki dan 0,66 untuk perempuan tingkat SD.
Sedangkan untuk tingkat SMP, angka ATS mencapai 7,97 untuk laki-laki dan 5,86 untuk perempuan.
Untuk tingkat SMA, angkanya mencapai 23,78 untuk laki-laki dan 19,34 untuk perempuan.
Baca Juga: Kenapa Sumatera Selatan? Rahasia di Balik Produksi Karet Terbesar, Luas Lahannya Mencapai…
Berdasarkan data yang dirilis BPS, angka Anak Tidak Sekolah mencapai penurunan dari tahun 2022 ke tahun 2023.
Untuk tingkat SD, penurunan dari angka 0,71 ke 0,67. Sedangkan untuk tingkat SMP, penurunan dari 6,94 ke 6,93. Adapun untuk tingkat SMA, penurunan dari 22,52 ke 21,61.
Adapun salah satu faktor tingginya angka putus sekolah adalah kemiskinan juga pekerja anak.
Dalam hal ini, anak laki-laki cenderung dijadikan tenaga kerja daripada perempuan.
Faktor inilah yang menyebabkan jumlah siswa putus sekolah untuk laki-laki angkanya lebih besar.
Faktor ini pula yang menyebabkan angka pekerja anak terutama laki-laki lebih tinggi sehingga angka putus sekolah laki-laki pun lebih besar.
Baca Juga: Tak Disangka, Kaum Jomblo Jadi Mahluk Paling Bahagia di DKI Jakarta, Ini Alasannya
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ditunjukkan bahwa Sebagian besar (76%) keluarga mengungkapkan bahwa penyebab Utama anak putus sekolah adala karena faktor ekonomi.
Hal tersebut di antaranya karena tidak mampu membayar biaya sekolah juga adanya keharusan mencari nafkah.
Selain faktor ekonomi, ada pula alasan sosial budaya yang mengakibatkan anak tidak mampu bertahan dalam sistem pendidikan atau sekolah.
Baca Juga: DKI Jakarta Masuk 30 Besar Kota Termacet di Dunia, Jika Kemacetan Diurai Bisa Mengular 402,8 Km!
Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah pernikahan dini dan menjadi ibu saat usia sekolah, merasa cukup dalam pendidikan, juga mengurus rumah tangga.
Untuk faktor-faktor di atas, sebagian besar terjadi pada siswa perempuan.***