Jika Sekolah Harus Jalan Kaki Selama 2 Jam, Kampung Pelosok di Sulawesi Selatan Ini Unik Banget, Lokasinya…

inNalar.com – Kampung yang ada di pelosok daerah pelosok Sulawesi Selatan, untuk menuju ke perkampungan tersebut harus membutuhkan suatu perjuangan dan juga tekad.

Selain itu untuk menuju perkampungan pelosok ini juga penuh resiko karena perjalanan menuju kesana tidak semulus jalan-jalan desa yang suda berkembang.

Harus melewati jalan yang sempit dan juga banyak tanaman semak-semak untuk menuju ke perkampungan pelosok yang berada di Sulawesi Selatan.

 Baca Juga: Berdiri Sejak 1906, Masjid di Kota Jambi Ini Jadi Saksi Bisu Masa Perjuangan Sultan Thaha Melawan Belanda

Keseharian para  penduduk yang berada di perkampungan pelosok ini adalah berkebun yang nantinya akan ditukarkan dengan beras untuk menyambung hidup.

Tidak hanya ditukar dengan beras para penduduk yang menempati perkampungan ini juga akan menukarkan hasil panen kebun dengan berbagai macam kebutuhan rumah lainnya.

Dihuni lebih dari 50 Kepala keluarga dengan jumlah hampir 520 jiwa yang menempati perkampungan pelosok yang berada di Sulawesi Selatan.

Baca Juga: 14 Km dari Surakarta, Ladang Tebu Seluas 17 ha di Boyolali Disulap Jadi Bandara Terbaik se-Jawa Tengah 

Selain berada di pelosok perkampungan ini juga berada di ketinggian hingga mencapai 1,400 mdpl yang berada di atas perbukitan.

Perkampungan yang terletak di pelosok dan berada di ketinggian bukit di Sulawesi Selatan ini memiliki nama Kampung Opang.

Perlu diketahui untung sekolah yang berada di perkampungan Opang hanya sampai pada kelas Sekolah Dasar (SD) sehingga harus berpindah.

 Baca Juga: Berjarak 20,5 Km dari Alun-alun Kediri, Terdapat Cerobong Asap Tertinggi di Indonesia! Tingginya Setara Monas

Untuk melanjutkan kelas 4 ke kelas 6 anak-anak harus berpindah ke Sekolah Dasar Negeri yang berada di Inpres Batusara. 

Untuk menuju ke Sekolah Dasar Negeri Inpres Batusara anak-anak dari penduduk Kampung Opang harus menempuh waktu perjalanan hingga 2 jam jalan kaki, untuk lanjut ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) anak-anak harus harus pindah ke kota. 

Para penduduk yang berada di perkampungan tersebut menganut kepercayaan para leluhur atau nenek moyang yang sudah ada sejak ratusan tahun.

Uniknya perkampungan ini sekarang memiliki 3 kepercayaan yang dianut bahkan para penduduk hidup makmur dan juga memiliki toleransi yang tinggi. 

Awalnya penduduk memiliki kepercayaan yang dianut para leluhur atau nenek moyang tetapi sebagian para penduduk berpindah kepercayaan atau keyakinan.

Para penduduk ada masuk kedalam Agama Islam dan juga Agama Kristen, sehingga perkampungan tersebut memiliki tiga kepercayaan dan memiliki toleransi yang sangat tinggi.***

Rekomendasi