Jembatan dan 13 Makam Kuno Peninggalan G30 S PKI Muncul dari Dasar Waduk Wonogiri

inNalar.com – Bendungan yang menyimpan banyak misteri ini bernama Waduk Gajah Mungkur yang dikenal sebagai destinasi wisata di Wonogiri, Jawa Tengah.

Setiap periode tententu di musim kemarau, jejak peradaban dari 51 desa yang ditenggelamkan di area waduk ini muncul kembali.

Ketika musim kemarau terlihat jembatan, anak sungai, sumur tua, kuburan kuno berwarna putih, hingga jejak penjagalan anggota PKI muncul dari dasar waduk.

Baca Juga: Proyek Industri Bioetanol di Bojonegoro Memiliki Nilai Investasi Rp 20 Triliun

Kekeringan tersebut terjadi secara rutin setiap tahun. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya pendangkalan akibat sedimentasi, tidak ada suplai dari hulu, dan kemarau panjang.

Waduk Gajah Mungkur merupakan bendungan nomor 1 di Jawa Tengah sekaligus nomor 6 di Indonesia.

Bendungan ini mempunyai peran yang sangat vital karena mengendalikan hulu Sungai Bengawan Solo sehingga dapat mencegah banjir di area Karesidenan Surakarta.

Baca Juga: Dikenal Banyak Gedung Pencakar Langitnya, Mega Proyek di Hong Kong Ternyata Masih Pakai Cara Tradisional

Waduk ini juga berfungsi untuk mengairi sawah seluas 23.600 Ha dibeberapa kabupaten seperti Klaten, Sukoharjo, Karangayar, dan Sragen.

Selain itu, berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air minum di Kota Wonogiri dan sekitarya serta menyuplai energi untuk pembangkit listrik dari PLTA sebesar 12,4 MegaWatt.

Bendungan ini dibangun pada tahun 1976-1980 dan pemabangunannya mengorbankan 67.000 jiwa yang tersebar di 51 desa dari 7 kecamatan.

Baca Juga: Habiskan Rp 1.200 Triliun, China Bangun Mega Proyek yang Melawan Hukum Alam

Mereka terusir dari tanah kelahirannya demi kepentingan yang lebih besar yakni pembangunan untuk kepentingan yang lebih baik.

Saat pemerintah Orde Baru, mereka dipindahkan ke beberapa wilayah, seperti Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu.

Ketika musim kemarau yang berkepanjangan tiba, air waduk pun surut, sebagian ada yang mengering. Lalu, jejak peradaban 51 desa yang terkubur di dasar waduk terlihat dengan jelas.

Saat kondisi mengering, jalan lama yang dulu pernah menghubungkan wilayah Wuryantoro ke Eromoko muncul kembali.

Banyak warga sekitar yang memanfaatkan kembali jalan lama ini untuk potong kompas saat berpergian dari Wuryantoro ke Eromoko ataupun sebaliknya.

Meski jalanannya rusak, warga mengganggap hal itu sepadan dengan penghematan waktu yang dilakukan, tetapi hanya kendaraan roda dua saja yang melewati area tersebut.

Ditemukan pula jembatan kuno bernama pondok sari yang biasanya terendam air. Jembatan itu merupakan area yang strategis di Wonogiri pada zamannya.

Dulu sebelum ditenggelamkan, beberapa desa di sana memiliki jumlah penduduk yang padat dan makmur.

Ditemukan pula area pemakaman kuno yang ikut muncul saat musim kemarau. Uniknya hampir semua makan di wilayah tersebut berwarna putih.

Berdasakan informasi, makam tersebut sebenarnya dibangun pada tahun 1950an.

Lebih lanjut, warga setempat sebelumnya memanfaatkan batuan kapur yang berlimpah di daerah tersebut untuk membuat kijing pemakaman sehingga makam berwarna putih.

Area pemakaman itu juga menjadi makam korban peristiwa pemberontakan G30 S PKI dan terdapat 13 makam kuno di area tersebut.

Pada tahun 1965, sejumlah anggota PKI dan Gerwani dieksekusi oleh tantara. Mereka bersama-sama dikubur dalam satu lubang.

Selain tempat dikuburnya orang PKI, kuburan lama tersebut juga untuk masayarakat Kecamatan Wuryantoro.

Di beberapa area waduk yang mengering, warga setempat memanfaatkan lahan tersebut untuk bertani. Mereka menanam padi dan jagung. *** (Ummi Hasanah)

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]