

inNalar.com – Pratama Arhan diketahui telah resmi bergabung dengan Tokyo Verdy, klub kasta kedua Liga Jepang (J2 League). Kabar bergabungnya Pratama Arhan disampaikan oleh Tokyo Verdy melalui media sosial mereka, pada Rabu, 16 Februari 2022 silam.
Selain itu CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, juga telah mengumumkan kabar kepindahan Arhan dari PSIS ke Verdy.
Bek kiri Timnas itu direkrut dari PSIS Semarang tanpa sepeserpun mahar. Pemain kelahiran Blora ini punya durasi kontrak dua tahun dengan klub asal Tokyo tersebut.
Arhan menjalani rangkaian protokol kesehatan (prokes) dan tes medis, setelah kemudian diperkenalkan secara resmi oleh Tokyo Verdy.
Namun jauh sebelum bergabungnya Arhan dengan Tokyo Verdy, Indonesia sudah punya satu nama yang kelak tercatat sebagai pesepakbola lokal pertama yang ‘Abroad’ ke luar negeri. Nama tersebut adalah Iswadi Idris, gelandang legendaris yang pernah memperkuat Timnas Indonesia di era 60 hingga 70-an.
Legenda Besar Timnas dan Persija Jakarta itu, tercatat sebagai pesepakbola Indonesia pertama yang berkarir di luar negeri. Pada 1974, Iswadi direkrut oleh klub semi-profesional yang bernama Western Suburbs Club (WSC) asal Sidney, Australia.
Penampilan Iswadi bersama Timnas Indonesia dalam ajang Kualifikasi Piala Dunia 1974 di Australia, membuat Pihak WSC tertarik akan kemampuan mengolah bola Iswadi.
Namun di Australia, bersama WSC Iswadi hanya mampu tampil selama satu musim dari 1974-1975. Sebelum akhirnyhongkonga kembali memperkuat Persija di Kompetisi Perserikatan PSSI 1975.
Pada 1974 pula, ada 4 pemain asal Indonesia yang bergabung dengan MacKinnon MacKenzie, salah satu klub Liga Hongkong. Mereka adalah Surya Lesmana, Risdianto, Jeffrey, dan Gunawan.
Keempat pemain yang berlabuh ke Liga Hongkong ini, dibawa oleh mantan Kiper Persija di era 60-an, Kwok Tak Sin, yang saat itu sudah pensiun dan berprofesi sebagai Agen Pemain di Hongkong.
Baca Juga: BTS akan Mengadakan Konser pada Maret Mendatang, ARMY Wajib Tahu Tanggalnya
Iswadi sendiri lahir pada 8 Maret 1948 di Banda Aceh, dan telah meninggal dunia pada 11 Juli 2008. Iswadi dijuluki “Boncel” karena perawakannya yang kecil (165 cm). Iswadi adalah kapten tim nasional sepak bola Indonesia dari tahun 1970 hingga 1980.
Pemain yang mengakhiri karir sepakbolanya di PSP Padang ini, telah mencatatkan 55 gol dalam pertandingan Internasionalnya bersama Timnas Garuda. Bersama Timnas pula, Iswadi juga telah menorehkan 50 kemenangan, 15 pertandingan seri, dan 32 kekalahan dari 97 penampilannya.
Iswadi adalah pencetak gol terbanyak kedua sepanjang sejarah Timnas Indonesia, dan punya rekor penampilan terbanyak kedua untuk tim nasional Indonesia, setidaknya hingga saat ini.
Iswadi yang berseragam Timnas Garuda dari 1968 hingga 1980, ada di bawah Abdul Kadir yang mencatatkan rekor penampilan dan gol terbanyak bersama Timnas, yaitu 111 caps dengan 70 gol.
Penampilan internasional pertama Iswadi bersama Timnas adalah pada Turnamen Merdeka 1968. Iswadi menjalani debut sebagai kapten Timnas yaitu pada 1970.
Bersama Soetjipto Soentoro, Abdul Kadir dan Jacob Sihasale, ia adalah bagian dari “kuartet tercepat di Asia”. Iswadi jug sempat bermain di bek kanan dan stopper. Namun ia lebih banyak diplot sebagai penyerang di Timnas bersama Abdul Kadir.
Bersama Timnas, Iswadi pernah memenangkan Piala Raja 1968, Turnamen Merdeka 1969, Piala HUT Jakarta 1972, dan Pesta Sukan 1972. Iswadi terakhir bermain bersama Timnas dalam kualifikasi Olimpiade 1980.
Iswadi kemudian sempat melatih Timnas, dan pernah juga menjadi pengurus PSSI.
Jauh sebelum itu, Iswadi mengawali debut profesionalnya di klub adalah bersama Persija pada 1966. Ia mengawali debutnya bersama Persija dengan memperoleh hasil buruk ketika timnya hanya menempati peringkat 4 pada kompetisi Perserikatan 1966. Iswadi kemudian resmi pension sebagai pesepakbola pada 1980.***