

inNalar.com – Bandung yang sering diromantisasi para wisatawan dan media sosial, dengan pesona alam yang memukau, ternyata memiliki karakter masyarakat yang unik, terutama dalam berlalu lintas.
Sebagai Ibu Kota Jawa Barat, yang cukup terbilang kota besar dan lebih maju di bandingkan kota-kota lainnya. aktivitas di jalan raya Bandung, kerap kali padat dipenuhi para pengendara, baik itu roda dua maupun roda empat.
Namun, suasana hening dan tanpa klakson sering kali dirasakan para pengendara, Bahkan di situasi kemacetan parah sekalipun. Fenomena ini membuat pengunjung dari luar kota terkejut, kagum sekaligus merasa terkuras kesabaran.
Baca Juga: Leuweung Sancang, Jejak Mistis Prabu Siliwangi di Hutan Keramat Jawa Barat yang Penuh Keindahan
Pasalnya, mayoritas para pengendara di Bandung lebih memilih sabar dan damai. Berbeda dengan kota-kota besar lainnya, seperti halnya Jakarta, suara klakson menjadi simfoni di setiap sudut jalan dan tak bisa dihindari.
Fenomena ini juga memicu penasaran warganet terutama orang yang berasal di luar Bandung, terlihat dalam video YouTube Deenurf, ketika suasana macet parah di stopan lampu merah, hampir tak terdengar bunyi klakson, sekalipun lampu berganti hijau.
Seseorang Pria juga membuktikan rasa penasarannya dalam channel YouTube Utosia, hingga ia mengklaim bahwa orang bandung memiliki kesabaran setebal tembok China, jauh berbanding terbalik dari jakarta.
Baca Juga: Uniknya Kampung di Jawa Timur Ini yang Hanya Memiliki 4 Kepala Keluarga
Lantas, apa sebenarnya yang membuat kota ini begitu berbeda dalam hal kebiasaan berkendara? Simak pembahasan berikut yang mengungkap rahasia kesabaran pengendara di Bandung dalam beberapa fakta menarik.
Didominasi Suku Sunda yang Terkenal Santai dan Ga Enakan.
Dilansir berbagai sumber, Bandung menjadi salah satu daerah di Jawa Barat yang didominasi etnis Sunda, sementara orang sunda terkenal memiliki sifat santai, menghindari konflik dan ga enakan.
Sementara membunyikan klakson pertanda sebagai peringatan kepada orang lain, terkadang mereka menggapnya kurang sopan dan mengganggu kenyamanan orang lain.
Bahkan di lampu merah sekalipun, mereka lebih memilih menunggu tanpa tergesa-gesa, sehingga menciptakan suasana jalan yang damai dan tertib.
Klakson Alih Fungsi Jadi Alat Menyapa
Mengutip Bandung.go.id, fungsi klaksosn justru sering diartikan berbeda di tengah masyarakat Bandung, alih-alih digunakan dalam hal mendesak dan sebagai tombol peringatan kepada orang lain di jalanan.
Justru mereka memfungsikannya sebagai alat menyapa orang yang dikenal ketika bertemu di jalan. Seperti halnya kerabat, teman atau lainnya. Dengan harapan mereka menyadari keberadaannya.
Baca Juga: Inilah 6 Hewan Paling Langka di Dunia, Ada yang Cuma Tersisa 2 Ekor di Bumi
Selain itu, klakson juga difungsikan ketika ada sesuatu hal yang menghalangi di tengah jalan, atau istilah mereka “Ngagokan.” Misalnya ada anak kecil yang khawatir takut ketabrak, atau mungkin hewan dan lain-lain.
Hal ini tentu berbeda dengan kota-kota besar lainnya yang cenderung menggunakan klakson sebagai tanda ketergesaan atau ketidaksabaran.
Membunyikan Klakson Berkali-Kali Bikin Tersinggung,
Menurut pengalaman warga sekitar, justru mereka merasa tersinggung jika ada pengendara yang membunyikan klakson berkali-kali. Selain dianggap tidak sopan, juga terkesan tidak menghargai pengendara lain.
Salah satu candaan yang sering terdengar di Bandung adalah, “Sakirana Rusuh Mah Ti Kamari” artinya kalau memang keadaanya buru-buru, berangkatnya harus dari kemarin, atau kalimat sejenis lainnya.
Terlepas baik dan buruknya, mereka menyadari bahwa setiap pengendara di jalan memiliki tujuan dan kebutuhannya masing-masing, oleh karenanya mereka menjungjung tinggi ketertiban dan rasa menghormati.
Dengan karakteristik unik ini, Bandung pantas dijuluki sebagai kota dengan budaya berkendara yang santai dan minim dari kebisingan klakson. *** (Gita Yulia)