Jadi Tempat Plesir Turis Asing, Benteng Bersejarah di NTT Ini Dijaga 9 Generasi

inNalar.com – Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi yang miliki sejuta keindahan alam.

Tak heran bila NTT menjadi salah satu tujuan wisata populer baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Tak hanya destinasi wisata alamnya yang menawan, di NTT juga terdapat destinasi wisata sejarah.

Baca Juga: SUN Energy Kolaborasi dengan Perusahaan Asal Jember Kembangkan PLTS Atap, Mampu Reduksi Emisi Karbon hingga 422 Ton Per Tahun

Salah satu destinasi wisata sejarah di Nusa Tenggara Timur dikenal dengan nama Benteng None.

Lokasinya Jl. Soe – Niki-Niki, Tublopo/Meometan, Kec. Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.

Dilansir inNalar.com dari ttskab.go.id, Benteng None adalah salah satu peninggalan Raja Amanuban pada masa kerajaan ratusan tahun lalu.

Baca Juga: Jembatan Gantung Paling Ekstrem Sepanjang 30 Meter di Jogja Ini Jadi Wisata yang Paling Diburu Pencinta Adrenalin, Berani Coba?

Area benteng ini dibangun di atas lahan berukuran 80m x 44m dan terdapat beberapa hal yang bisa di temukan disini.

Diperkirakan benteng ini telah berdiri sejak tahun 1890 dan kini mencapai generasi ke-9.

Salah satunya adalah Latar Budaya Berlanjut yang telah diwariskan sejak zaman dahulu.

Baca Juga: Catatkan Penurunan Jumlah Keuntungan, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) Rampungkan Pabrik Pemurnian Emas pada Kuartal III 2023

Situs peninggalan sejarah ini dimiliki oleh masyarakat adat suku Tauho dan dikelola oleh Bapak Kores Tauho.

Miliki nilai sejarah yang tinggi, sayangnya destinasi wisata ini kurang diminati oleh wisatawan lokal.

Kendati demikian, benteng ini malah menjadi tempat plesir bagi wisatawan mancanegara.

Baca Juga: Laba Bersih UNTR Nyusut 3 Persen, United Tractors Masih Pede Lini Bisnis Batu Bara 2024 Makin Ngegas, Berani Patok Target Penjualan hingga…

Hal tersebut dibuktikan dengan nama-nama yang tertera di buku tamu kedatangan.

Dalam buktu tamu terlihat dengan jelas terdapat nama-nama yang berasal di mancanegara seperti dari Korea, Swedia, Jepang, dan sebagainya.

Dibenteng ini sendiri terdapat tiga ritual adat yang harus dilaksanakan sebelum menyatakan perang terhadap musuh yakni pene (pengamatan), ote naus (mengukur kekuatan dan melakukan ramalan hasil perang), dan bol nu’ut (lubang intip).***

 

Rekomendasi