

inNalar.com – Menjadi wilayah yang kaya akan sumber daya alam, banyak daerah di Kalimantan Selatan yang dijadikan pertambangan dan perkebunan sawit.
Namun, tak sedikit juga warga di Kalimantan Selatan yang berjuang untuk mempertahankan keasrian dari hutan mereka.
Seperti contohnya dalam kehidupan berdampingan dengan alam di Kalimantan Selatan, yaitu Gunung Halau-halau.
Baca Juga: 1,6 KM dari Stasiun Serpong, Makam Keramat Ini Menjadi Jejak Penyebaran Islam di Banten
Dilansir inNalar.com dari kanal YouTube @fiersabesari, Gunung Halau-halau merupakan salah satu jalur pendakian yang menantang.
Meski memiliki ketinggian yang jauh berbeda dengan gunung tertinggi di Pulau Jawa yakni 1.901, namun alam yang ditawarkan tidak bisa diremehkan.
Kesulitan yang dihadapi para pendaki untuk menaklukkan gunung tertinggi di Kalimantan Selatan tersebut dihalangi oleh beberapa faktor.
Selain cuaca yang sulit diprediksi, hewan-hewan liar yang berhabitat di gunung tersebut kerap kali membuat para pendaki kewalahan.
Tidak hanya terbatas cacing dan lintah, terkadang pendaki bisa diserang oleh kalajengking saat bermalam di pos penjagaan gunung.
Gunung Halau-halau juga dikenal sebagai tempat keramat suku Dayak Meratus karena keberadaan pohon Kariwaya.
Pohon tersebut dipercaya sebagai tempat tinggal makhluk halus. Suku Dayak Meratus di masa lalu kerap kali menjadikannya tempat bertapa.
Menjadi gunung tertinggi di provinsi Kalimantan Selatan, Gunung Halau-halau rupanya berdekatan dengan beberapa desa.
Salah satunya adalah Desa Kiyu yang menjadi tempat pemberhentian pertama sebelum melakukan pendakian Gunung Halau-halau.
Desa Kiyu dikenal sebagai kampung yang melawan tegak usaha pertambangan di Gunung Halau-halau.
Pemandangan alam asri dengan hutan lebat yang menyelimuti Gunung Halau-halau menjadi bukti bahwa Kalimantan Selatan berperan dalam keberlangsungan paru-paru dunia.
Keberadaan Gunung Halau-halau sebagai puncak tertinggi di Kalimantan Selatan juga menjadi satu-satunya lokasi terakhir yang bersih dari tempat pertambangan.
Selain itu, penolakan tempat pertambangan juga dilakukan untuk menjaga keasrian bantaran sungai di sini, seperti Sungai Amandit dan Sungai Alai.
Tentunya hal tersebut Gunung Halau-halau menjadi tempat favorit para pendaki di Kalimantan Selatan karena keindahan alamnya yang masih asri.***