Jadi Presiden Terlama dalam Sejarah Indonesia, Ternyata Soeharto Pernah Menolak Wasiat Terakhir Soekarno

inNalar.com – Soeharto dilantik menjadi presiden ke-2 Indonesia pada tahun 1967.

Pemerintahan Soeharto dikenal dengan sebutan rezim Orde Baru yang menuai berbagai kontroversi.

Tak banyak yang tahu bahwa ternyata hubungan Soeharto dengan presiden terdahulu Soekarno tak berjalan baik.

Baca Juga: Mitos Sirkuit Mandalika yang Dulunya Tempat Mata-Mata Portugis, Warga: Ada Jejak Pintu Masuk di…

Bahkan, ternyata Soeharto pernah menolak mentah-mentah wasiat terakhir Soekarno.

Diketahui bahwa Soekarno meninggal pada Juni 1970 dalam usia 69 tahun.

Sebelum berpulang, Soekarno sempat mengucap sebuah wasiat romantis.

Baca Juga: Bukan 1998, Emil Salim Ungkap Soeharto Rupanya Sudah Inginkan Lengser Sejak Tahun Ini, Alasannya karena…

Soekarno berpesan bahwa ia ingin suatu hari nanti dikubur satu liang lahat bersama sang istri Ratna Sari Dewi.

Hal tersebut disebabkan oleh rasa cinta yang mendalam kepada Ratna Sari Dewi.

Selain itu, Soekarno juga berpesan bahwa saat ia berpulang nanti, ingin dikuburkan di bawah pohon yang rindang.

Baca Juga: Inilah Langkah Soeharto dalam Mempertahankan Swasembada Beras dan Tingkatkan Pendapatan Petani, Dicuri India?

Dari berbagai sumber yang beredar, Soekarno berkeinginan dimakamkan di Istana Bogor.

Ada pula yang mengatakan bahwa tempat yang memenuhi kriteria tersebut adalah villa pribadi Soekarno di Batu Tulis, Bogor.

Namun, pada kenyataannya saat Soekarno meninggal dunia, ia dimakamkan di tanah kelahirannya, Kota Blitar.

Tempat tersebut tentunya tak sesuai dengan wasiat terakhir Soekarno.

Bersumber dari video yang diunggah di akun youtube/sifrend pasmol lover’z, diketahui bahwa Soekarno dimakamkan di Blitar merupakan keputusan pemerintahan Orde Baru pada masa kepemimpinan Soeharto.

Wasiat terakhir Soekarno tersebut tidak diindahkan oleh Soeharto yang memilih untuk memakamkan Soekarno secara kenegaraan di Blitar.

Banyak asumsi yang mengatakan bahwa Bogor terlalu dekat dengan Jakarta sebagai pusat pemerintahan.

Hal tersebut dianggap dapat mengganggu stabilitas politik sang pengasa di rezim Orde Baru saat itu.

Namun, Soeharto beralasan memakamkan Soekarno di Blitar karena Soekarno dapat dimakamkan di samping pusara sang ibu.***

 

Rekomendasi