

inNalar.com – Industri kreatif Indonesia semakin berkembang. Salah satunya industri rambut palsu di Purbalinga.
Industri rambut palsu di Purbalingga, Jawa Tengah, menjadi salah satu andalan ekspor yang mampu menembus pasar internasional.
Produk rambut palsu dari kota ini, yang terdiri dari wig, hair extension, dan berbagai aksesori rambut, telah dikenal dunia akan kualitas.
Hal ini menempatkan Purbalingga sebagai eksportir rambut palsu terbesar kedua di dunia, sebuah prestasi yang luar biasa bagi Indonesia.
Indonesia masih belum bisa mengalahkan Guangzhou yang menyandang eksportir rambut palsu terbesar di dunia.
Perkembangan industri rambut palsu di Purbalingga bukanlah sesuatu yang instan.
Baca Juga: Satukan Batam-Singapura, Proyek Jembatan Sepanjang 7 KM di Kepulauan Riau Bakal Salip Rekor Suramadu
Hal ini tidak lepas dari tradisi suku Jawa yaitu penggunaan sanggul bagi wanita ketika menghadiri acara tertentu.
Dimulai pada tahun 1950-an saat orang-orang mengumpulkan rambut untuk dijadikan sanggul.
Bahkan pada tahun 1960-an terdapat pasar khusus yang menjajakan rambut palsu. Sejak saat itu, banyak yang melirik industri ini.
Para pekerja yang turun ke industri ini kebanyakan adalah kaum perempuan. Tercatat 95 persen pekerja industri ini adalah kaum perempuan.
Dari segi pemasaran, produk rambut palsu Purbalingga tidak hanya mengandalkan pemasaran lokal tetapi juga memperluas jaringan di berbagai negara.
Pemerintah daerah dan pusat terus mendorong promosi di tingkat internasional untuk memastikan bahwa produk Purbalingga semakin dikenal.
Baca Juga: Terpendam di Hutan Nusantara, Kampus Kuno Terbesar se-Asia Tenggara Ini Ternyata Ada di Jambi
Negara-negara seperti Amerika Serikat, beberapa negara di Eropa, dan beberapa negara di Asia menjadi pasar utama bagi produk rambut palsu dari Purbalingga.
Bahkan, beberapa selebriti internasional disebut-sebut menggunakan wig buatan Purbalingga.
Salah satu artis papan atas dunia yang sempat menggunakan wig produksi Purbalingga adalah Lady Gaga.
Permintaan yang tinggi dari pasar internasional disebabkan oleh kualitas produk yang dihasilkan serta variasinya yang sesuai dengan tren mode global.
Selain itu, pelaku usaha setempat juga didorong untuk berinovasi dalam desain dan teknik produksi agar bisa memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang.
Meskipun industri ini terus berkembang, tantangan tetap ada. Melansir dari website pemerintah Jawa Tengah berikut beberapa kendala yang ditemukan.
Seperti bahan baku produksi rambut palsu masih sulit didapatkan. Selain itu, perebutan tenaga kerja antar pelaku usaha sering terjadi.
Faktor gengsi juga jadi kendala karena banyak orang yang lebih memilih untuk kerja di pabrik besar ketimbang dalam skala kecil.
Upaya pengembangan penting untuk mempertahankan posisi Purbalingga di pasar dunia, serta meningkatkan kontribusi ekspor dalam perekonomian Indonesia.
“Pasaran produk industri rambut palsu ke Eropa, Amerika, Asia serta pasaran dalam negeri,” dikutip dari laman resmi Provinsi Jawa Tengah.***(Muhammad Arif)