Jadi Cukong Soeharto, Begini Manisnya Gurita Bisnis Taipan Terkaya se-Asia Tenggara di Bawah Kuasa Jenderal

 

inNalar.com – Liem Sioe Liong dikenal sebagai seorang taipan terkaya se-Asia Tenggara yang diketahui berasal dari etnis Tionghoa.

Pada masa Orde Baru, setiap jenderal besar diketahui setidaknya memiliki satu cukong atau pihak penyedia dana yang dijadikan mitra bisnis. Adapun hal yang sama terjadi pada Liem Sioe Liong yang dikenal sebagai cukong Soeharto.

Usut punya usut, ternyata hubungan semacam itu, yakni antara jenderal militer dan pebisnis konglomerat, disebabkan karena para elit militer membutuhkan kelihaian para pebisnis keturunan Tionghoa yang sedari dulu telah turun temurun mewarisi keahlian dan bakat berbisnis.

Baca Juga: Deretan Bisnis Fantastis Keluarga Cendana, Anak Soeharto Pegang Berbagai Saham, Terdapat Nasehat Yaitu….

Pertemuan antara  Soeharto dan Liem Sioe Liong bermula dari seorang penasihat spiritual, Sudjono, yang merekomendasi dirinya pada sang taipan terkaya tersebut.

Berkat kenal dengan Jenderal Soeharto itu pula, Liem Sioe Liong akhirnya juga memiliki koneksi dengan elit militer lainnya seperti Jenderal Suryo dan Sofjar.

Liem, begitulah sebutannya, dirinya benar-benar memaksimalkan koneksi untuk mengguritakan dunia bisnisnya.

Baca Juga: Alasan Soeharto Bertahan 32 Tahun Jadi Presiden: Cerdik Kelola Organisasi Partai Hingga Praktik ‘Koncoisme’?

Bisnisnya kian licin saat Soeharto naik tahta sebagai Presiden, pamornya di antara konglomerat keturunan Tionghoa lainnya cukup terpandang berkat koneksi tersebut.

Koneksi paling penting dalam bisnis semen miliknya adalah sosok Chin Sophonpanich, karena dia menanam saham pada bisnis Liem sekaligus sebagai dewan komisaris.

Robert Kuok Hock, juragan hotel bintang 5 Shangri-La. Ia juga turut menanam saham pada bisnis Liem Sioe Liong yang sedang merintis usaha penggilingan gandum Bogasari.

Baca Juga: Terungkap, Soeharto Pernah Tolak Tawaran Soekarno Tapi Malah Naik Jadi Presiden: Gak Ada yang Lain?

Tidak hanya berhenti pada bisnis semen dan gandum roti, Liem Sioe Liong juga merambat ke dunia cengkeh.

Sayangnya, cengkeh yang ditanam di Afrika jauh lebih disukai oleh para pembeli di Indonesia sehingga membuatnya berpikir keras untuk bisa memenuhi kebutuhan pasar.

Adapun kebijakan impor rempah-rempah di era Soekarno ini sempat dibuka untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang dinilai belum berhasil mencukupi dirinya sendiri.

Terutama bagi perusahaan yang memiliki koneksi politik, maka keran impor cengkih pun terbuka lebar bagi mereka.

Liem Sioe Liong sempat memegang izin sekali pakai dalam rangkaian memasukkan barang 3 ribu ton cengkeh yang didatangkan langsung dari Afrika.

Kesuksesan demi kesuksesan dalam industri rokok kretek ini semakin manis dipanen oleh dirinya. 

Uniknya saat krisis moneter 1997 justru industri rokok kretek semakin berjaya hingga jadi penyumbang cukai negara.

Hingga akhirnya bertemu lah Liem Sioe Liong dengan adik sepupu Soeharto bernama Dwi yang akhirnya merasa saling cocok dalam bermitra.

Tidak ada yang abadi rupanya, hubungan kemitraan mereka ikut meregang seiring Soeharto akhirnya lengser dari kursi presiden.

Adapun titik temu kecocokan antara Liem Sioe Liong dan Soeharto adalah yang satu menginginkan uang dan yang satu menginginkan kekuasaan.***

Rekomendasi