Isra Mi’raj 2022 atau 1443 H, Ini Maksud Lain dari Peristiwa Besar yang Goncang Dunia Menurut Gus Baha

inNalar.com – Isra Mi’raj 2022 atau 1443 H bertepatan dengan akhir bulan Februari ini, saatnya bagi kaum muslimin menggali makna.

Salah satu maksud dan tujuan peristiwa besar ini dijelaskan oleh Gus Baha, ulama asal Rembang Jawa Tengah.

Isra Mi’raj 2022 atau 1443 H harus diyakini oleh semua umat Islam, sebab tercantum di dalam Al Qur’an kata tersebut.

Gus Baha sendiri lebih menyukai penggunaan istilah isra dibandingkan mi’raj untuk peristiwa yang agung ini.

Baca Juga: Isra Mi’raj 2022 atau 1443 H, Simak Jawaban Buya Yahya Terkait Soal Pertemuan Allah SWT dan Rasulullah SAW

Isra Mi’raj 2022 atau 1443 H adalah istilah yang terlanjur digunakan banyak orang di Indonesia dan beberapa negara.

Dilansir inNalar.com dari video yang diunggah di kanal YouTube pada Belajar Tanpa Batas pada 26 Oktober 2019 Gus Baha sampaikan maksud peristiwa ini.

“Sebenarnya yang disepakati oleh seluruh ulama itu adalah isra, artinya yang mengingkarinya kafir karena disebutkan di Al Qur’an,” jelas Gus Baha.

Baca Juga: Isra Miraj 2022 atau 1443 H Jatuh Pada Tanggal Berapa? Simak Jadwalnya Menurut Muhammadiyah dan Pemerintah

Sedangkan mi’raj juga diyakini terjadi, hanya saja ada perbedaan pendapat mengenai yang pergi itu ruh saja atau ruh serta jasad sekaligus.

NU di salah satu kegiatan muktamarnya pernah menyepakati satu rujukan kitab yang meyakini bahwa Isra Mi’raj terjadi dengan ruh dan jasad.

Tetapi di pendapat yang meyakini Isra Mi’raj dengan ruh saja, terdapat orang-orang hebat seperti Aisyah.

Di mana keyakinan sebagian orang tersebut sebenarnya ada pengaruh akal, tidak bisa dianggap sebelah mata.

Baca Juga: Jelang Isra Miraj 2022 atau 1443 Hijriah, Ini Kisah saat Dada Nabi Muhammad SAW Dibelah dan Disucikan Malaikat

Tetapi Gus Baha menegaskan jika sebab keyakinan dipengaruhi akal, maka akan sangat banyak hal menyangkut keimanan juga harus dipertanyakan.

“Lalu kemudian ada hadits-hadits yang menerangkan proses Nabi Muhammad SAW berdialog dengan para nabi lain,” jelas Gus Baha.

Seperti berjumpa dengan Musa, Ibrahim, Idris, Isa, dan lainnya itu diterangkan di hadits-hadits yang shahih.

Maksud pertemuan tersebut yaitu agar Rasulullah SAW memiliki tradisi intelektual yang sama dengan nabi-nabi sebelumnya.

Ini yang terpenting, sebab bisa diambil contoh di masa kekinian misalnya ketika para kiai membuat pertemuan.

 Dari pertemuan akan menghasilkan identitas, para kiai akan memiliki ciri khas sama dan akan turun temurun.

 Misalnya dalam hal ketika melihat orang bermaksiat meminum khamr, yang terjadi adalah hanya bisa mengingkari di dalam hati.

Maka muncul orang lain yang tidak memiliki atau mendapat warisan identitas tersebut, yang mana berbeda tindakannya.

Ketika melihat orang yang bermaksiat meminum khamr, maka keinginannya langsung menghentikan, membasmi, dan menghancurkan langsung.***

Rekomendasi