

inNalar.com – Peristiwa Serangan Umum atau SU 1 Maret 1949 telah berhasil melambungkan nama Soeharto sebagai penggagas kesuksesan serangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam menumpas pendudukan kolonial Belanda.
Berkat kepemimpinan Soeharto dalam SU 1 Maret 1949 ini, wajah TNI menjadi begitu gagah, begitupun Indonesia di mata dunia.
Tatkala dunia internasional menyanjung sosok pemberani Letkol Soeharto, ditambah lagi dengan adanya julukan ‘Bunga Pertempuran’ yang disematkan kepadanya dari Jenderal Soedirman saat bersurat dengan Nasution.
Hingga akhirnya sosoknya kala itu mulai diperhitungkan berbagai pihak hingga menjadi titik balik puncaknya menuju kekuasaan di Pemerintahan RI.
Namun bagaimana sejarah melihat kejahatan genosida di Desa Kemusuk di Bantul, Jogja yang menjadi tempat kelahiran Soeharto?
Peristiwa berdarah yang terjadi pada 7 – 8 Januari 1949 di Desa Kemusuk, tepatnya di Kabupaten Bantul, Jogja.
Tanah kelahiran Soeharto yang menjadi sasaran empuk tentara Belanda membalaskan dendam pihaknya atas serangan bertubi-tubi TNI yang berjaya saat itu.
Diduga pemicu kekejaman membabi buta yang dilancarkan tentara Belanda adalah karena mencari sosok besar di balik serangan kuatnya pada 29 Desember 1948.
Dilansir dari Buku Biografi Daripada Soeharto, ada pula serangan 9 dan 16 Januari 1949, serta 4 Februari 1949 yang juga turut membuat tentara Belanda geram terhadap pasukan bersenjata RI saat itu.
Namun kala itu warga Desa Kemusuk tidak ada yang mengetahui keberadaan Soeharto hingga akhirnya ada harga besar yang harus diganti dari melejitnya reputasi Soeharto dalam rangkaian serangannya ke beberapa pos tentara Belanda.
Sudut lain dari kisah peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 ini kembali diungkap dalam sebuah seminar yang membahas tentang ‘Kemusuk Berdarah dan Letkol Soeharto’ pada Kamis, 16 Maret 2023.
Pada giat napak tilas sejarah tersebut, diungkap oleh sejarawan Noor Johan Nuh bahwa tercatat sebanyak 202 warga desa ini tewas dan diperkirakan masih ada lagi nama yang tak tercatat dalam sejarah.
Digambarkan pada saat itu desa yang menyimpan banyak memori masa kecil Soeharto yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan alam berkat hijaunya seketika berbalik.
Desa pelosok di Bantul, Jogja ini berubah menjadi lautan darah akibat tembakan brutal tentara Belanda yang tanpa arah hingga menewaskan ratusan korban yang semuanya berasal dari kalangan laki-laki.
Catatan sejarah ini nampak menjadi ironi di balik keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949, hingga disebutkan warga desa korban Genosida Belanda ini menjadi perisai bagi Letkol Soeharto.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi