Investasinya Rp9,8 Triliun, Smelter Bauksit Pertama di Kalimantan Barat Ini Saham Terbesarnya Punya China?

inNalar.com – Pembangunan smelter bauksit (alumina) pertama di Kalimantan Barat menggunakan dana investasi hingga Rp 9,8 triliun.

Pembangunan smelter pengolah bahan tambang bauksit (alumina) ini merupakan investasi yang berasal dari PT Well Harvest Winning Alumina.

Smelter alumina tersebut dibangun di Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Baca Juga: Tak Terlihat di Gmaps, Pulau Terluar Seluas 0,005 ha di Karimun Kepulauan Riau Ini Terancam Lenyap dari Peta?

Struktur dari bahan tambah bauksit terputus karena bahan baku utamanya di ekspor secara keseluruhan ke luar negeri.

Setelah bahan tambang tersebut diolah menjadi alumina, Indonesia mengimpor kembali 100 % untuk selanjutnya diolah menjadi aluminium ingot.

Hal itulah yang menajdi alasan dibangunnya smelter bauksit yang terkhususnya mengolah bahan tambang bauksit menjadi alumina agar tidak lagi melakukan impor aklumina dari luar negeri.

Baca Juga: Kronologi Luhut Binsar Pandjaitan Jatuh Sakit, Pemulihan di Rumah Sakit Jakarta hingga Singapura

Untuk membangun pabrik smelter yang mengolah bahan tambang bauksit menjadi alumina dibutuhkan biaya Rp 9,8 triliun atau 1 miliar dollar.

Pabrik di Kalimantan Barat tersebut mampu memproduksi hingga 2 juta ton alumina per tahun yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan alumina di Indonesia.

Dana tersebut diperoleh dari investor lokal dan investor China dengan investasi terbesar dipegang oleh China.

Baca Juga: Hanya 3,5 Jam! Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Ini akan Lintasi Kota di Selatan Jawa, Kecepatannya…

Dilansir Kemenperin, pembagian saham investor lokal oleh PT Citra Mineral Investindo TBK(CITA) yang kepemilikan sahamnya 25%, sedangkan 60% saham merupakan milik China Hongqiao Group Limited.

Selain itu, saham sisanya dipegang oleh Winning Investment (HK) company limited 10% serta PT Danpac Resources Kalimantan Barat 5%.

Meskipun saham terbesar dimiliki oleh China, tentunya pemerintah Indonesia telah mengatur pembagian hasil yang seimbang sehingga tidak merugikan pihak manapun.

Dengan tersedianya anggaran untuk membangun pabrik smelter bauksit di Mempawah, maka pembangunan dimulai tahun 2023 ini.

Pembangunan smelter yang mengolah bahan tambang penting di Indonesia ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Wakil Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral, Susilo Siswoutomo.

Tidak hanya dihadiri menteri ESDM, Siswoutomo didampingi oleh Jenderal Mineral dan Batubara, Thamrin Sihite dalam peletakan batu pertama pabrik yang mengolah dan memurnikan smelter bauksit di Kalimantan Barat.

Pembangunan pabrik ini diharapkan bisa mempererat kerjasama Indonesia -China serta bermanfaat besar untuk memenuhi kebutuhan akan pengelolaan bahan tambang bauksit. ***

 

Rekomendasi