Investasi USD 800 Juta, Aset ESSA di Banggai Sulawesi Tengah Ini Ternyata Jadi Pabrik Amonia Pertama di Dunia yang Gunakan Teknologi Mutakhir

inNalar.com – Meski industri kimia tidak setenar sektor bisnis energi yang tengah booming lainnya, ternyata permintaan produk amonia semakin meningkat guna kebutuhan bahan baku pupuk.

Siapa sangka, pabrik amonia milik anak usaha PT ESSA Industries Indonesia Tbk di Banggai, Sulawesi Tengah ini menjadi fasilitas pertama di dunia yang menggunakan teknologi tercanggih di industrinya.

Melalui anak usaha ESSA bernama PT Panca Amara Utama (PAU), Indonesia memiliki sebuah fasilitas produksi amonia yang telah menggunakan Reforming Exchanger System & Purifier Technology KBR.

Baca Juga: Belum Setahun Diresmikan, Smelter Nikel Senilai Rp16 Triliun di Kutai Kartanegara Sudah Memakan Korban, Kok Bisa?

Teknologi tersebut dinilai mampu memaksimalkan efisiensi penggunaan bahan bakar dan bisa dikembangkan untuk arah produksi amonia biru yang kini tengah diseriusi oleh perusahaan kimia ini.

Tidak heran jika dalam pembangunan pabrik yang memakan waktu 3 tahun lamanya ini telah menelan biaya investasi sebesar USD 800 Juta.

Seketika dengan gelontoran dana fantastis tersebut, proyek garapan ESSA menjadi yang terbesar di kawasan timur Indonesia.

Baca Juga: Ferran Torres Jemawa Setelah Sukses Cetak Hattrick di Laga Liga Spanyol 2023-2024 Real Betis vs Barcelona

Bukan tanpa alasan perusahaan sampai rela menguras biaya investasi yang cukup fantastis, karena arah proyeksi industri amonia ke depan tidak hanya berfokus pada pemenuhan target produksi.

Proyeksi upaya dekarbonisasi juga menjadi fokusan utama jangka panjang ESSA dalam mentransformasikan usahanya berbasis energi bersih.

Melansir dari Institute for Essential Services Reform, industri kimia ternyata masuk ke dalam industri penghasil emisi yang cukup besar.

Baca Juga: Xavi Hernandez Kritik Pedas Gol Kontroversial Vinicius Junior di Laga Real Madrid vs Almeria Usai Susah Payah Bawa Barcelona Menang

Menurut penghitungan IESR, emisi yang dihasilkan dari setiap ton amonia dapat melepaskan emisi karbon hingga 2,4 ton CO2.

Itu berarti pelepasan karbon tersebut dua kali lebih mengganda daripada industri baja mentah, bahkan empat kali lipat dari produksi semen.

Sehingga proyek dekarbonisasi ESSA ini menjadi salah satu upaya transformasi besar dari produk andalannya.

Baca Juga: Bakal Telan Dana Rp13,9 Miliar, Jembatan di Madiun yang Putus Sejak 2021 Akibat Banjir Akhirnya Dibangun Lagi

Salah satu proyek besar yang tengah digarap guna mewujudkan produk yang lebih berkelanjutan ini adalah adanya konversi fasilitas pabrik eksisting menuju produk amonia biru.

Proyek amonia biru telah dimulai sejak tahun lalu dengan menyelesaikan tahap pertama studinya.

Adapun sepanjang tahun 2024, ditargetkan studi kelayakan tahap kedua dapat dilaksanakan hingga akhirnya tahun berikutnya dapat mulai peluncuran produk.

Baca Juga: Besaran Laba Bersihnya Merosot, PT Gunung Raja Paksi Tbk Mencatatkan Penurunan Jumlah Utang

Rencananya, komersialisasi produksi ditargetkan rampung di tahun 2027 dengan target pasar utamanya adalah Jepang.

Sebagai informasi tambahan, pabrik amonia yang berlokasi di daerah Banggai ini memiliki kapasitas produksi sebesar 700.000 metrik ton per tahun.

Produk senyawa kimia ini biasanya digunakan oleh industri pupuk, komponen bahan peledak, asam atau pun produk petrokima yang lainnya.

Baca Juga: Laba Bersih Terperosok 91 Persen, ESSA Industries Indonesia Ungkap Biang Kerok Kemerosotan Kinerja Keuangan Kuartal III Tahun 2023

Terkait kinerja pabrik amonia per kuartal III tahun 2023 pada dasarnya menurun tetapi tidak signifikan, yaitu sebesar 539.720 metrik ton.

Pada periode sebelumnya, fasilitas produksi senyawa kimia ini mampu menghasilkan 564.552 metrik ton amonia.***

Rekomendasi