

inNalar.com – Kalimantan Timur bakal memiliki smelter nikel matte senilai Rp6,5 triliun di Kariangau yang letaknya tepat berada di sisi barat Balikpapan.
Salah satu perusahaan yang merupakan bagian dari MMS group bernama PT Mitra Murni Perkasa (MMP) diketahui telah memulai pembangunan smelter nikel matte sejak Senin, 11 September 2023.
Geliat awal pembangunan infrastruktur pengolah nikel ini ditandai dengan pelaksanaan grounbreaking yang dihadairi langsung oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.
Lebih lanjut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang secara khusus memberikan apresiasi tinggi pada PT MMP.
Pasalnya pembangunan smelter nikel matte di Balikpapan Barat ini telah menyerap penanaman modal yang seluruhnya berasal dari dalam negeri.
Adapun total nilai investasi yang diserap untuk pembangunan smelter ini diketahui menelan dana hingga Rp6,5 triliun.
Baca Juga: Daftar Pemain Unggulan India Open 2024: Indonesia Cuma Punya 5 Wakil
Dengan dana fantastis tersebut, tentu ada kapasitas produksi jumbo yang mengiringinya.
Smelter nikel matte yang diproyeksikan menjadi penunjang industri baterai di Indonesia ini diketahui mampu memproduksi produknya hingga 27.000 metrik ton setiap tahunnya.
Adapun penyelesaian konstruksi pembangunan pabrik nikel matte ini diproyeksi rampung pada akhir 2024 mendatang.
Tentu harapannya bakal ada pengembangan produk turunan yang akan semakin meningkatkan nilai tambah produknya.
Melansir dari situs Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Direktur Utama PT MMP Adhi Mustopo mengungkap bahwa dengan kandungan nikel sebesar 78 persen ini diharapkan kapasitas produksi 27.000 metrik ton mampu tergapai.
Adapun cita-cita besar di tahun 2025, diharapkan pihak perusahaan MMP sudah mampu memproduksi batera kendaraan listrik.
Sebagai informasi tambahan, bahwa pada 22 November 2023 lalu terdapat dua smelter nikel di Kalimantan Timur yang dikonfirmasi tengah dibangun selain di Kariangau, Balikpapan.
Pabrik lainnya berada di Kecamatan Sanga-Sanga, Kutai kartanegara dengan pihak pembangunnya adalah PT Kalimantan Ferro Industry (KFI).
Adapun nilai proyek smelter nikel yang digarap PT KFI ini diketahui memakan biaya hingga Rp30 triliun.
Dengan semakin berkembangnya industri penunjang bahan baku baterai di Kalimantan Timur, diharapkan keberadaan pabrik nikel ini mampu menyediakan bahan baku yang lebih beragam dan jumlah yang cukup untuk memasok industri lainnya.
Dalam hal ini terkait peningkatan produk bijih nikel menjadi bahan penunjang produk baterai, tentu sasaran Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur selanjutnya adalah industri otomotif berbasis ramah lingkungan.
Tentu langkah ini dapat membantu impian besar Indonesia dalam meraih program hilirisasi nikel demi menuju Indonesia Emas di tahun 2045.***