Investasi Proyek Rp1,2 Triliun, Bandara di Labuan Bajo NTT Diestimasikan Keruk Biaya Operasional Jumbo Selama 25 Tahun Sebesar…

inNalar.com – Demi wujudkan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai destinasi ‘Bali Baru’, Pemerintah RI mengembangkan sebuah bandara senilai Rp1,2 triliun di Labuan bajo.

Namun dari segi pengelolaan infrastruktur Bandara Komodo ini, ada yang cukup berbeda dari hal selain skema pendanaan Kerjasama Pemerintah bersama Badan Usaha (KPBU).

Apa yang cukup berbeda adalah pihak pengelola Bandar Udara ini berasal dari konsorsium CAS yang terdiri dari PT Cardig Aero Service (CAS).

Baca Juga: Alokasikan Dana Belanja Modal hingga Rp279 Miliar pada 2024, Pendapatan Perusahaan Batu Bara PT Bumi Resources Menurun?

Selain itu juga Changi Airports MENA Pte Ltd dan Changi Airports International Pte Ltd. (CAI) turut terlibat di dalam pengelolaannya.

Sedikit informasi mengenai CAS, PT Cardig Aero Services Tbk merupakan perusahaan yang spesialisasinya berada di bidang jasa pendukung transportasi udara.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkap bahwa dengan adanya kerjasama dari pihak swasta, bandara ini dapat dikelola secara profesional oleh para pihak yang tergabung dalam Konsorsium CAS.

Baca Juga: Sempat Dicaplok Oknum Warga, Lahan Eks Tambang Timah di Bangka Belitung Seluas 41,344 Ha Ini akan Diolah Kembali oleh Perusahaan Ini!

Jadi kerjasama KPBU dalam pengembangan Bandara Komodo di Labuan Bajo ini meliputi beberapa hal yang akan dikerjakan oleh pihak konsorsium.

Mulai dari tahap perancangan, pembangunan, pembiayaan fasilitas dari darat maupun udara, hingga mengoperasikan bandara ini dengan masa kelola hingga 25 tahun.

Apabila masa kerja sama berakhir, maka pihak pengelola dari Badan Usaha menyerahkan seluruh infrastruktur beserta fasilitas bandara kepada pihak Kementerian perhubungan selaku penanggungjawab proyek.

Baca Juga: Rela Subsidi Maskapai Garuda Rp78 Juta, Bupati Asal Sumatera Utara Ini Nekat Hidupkan Bandara yang Dulunya Sempat ‘Mati Suri’

Melansir dari situs Portal Dephub, investasi pengembangan Bandara Komodo di Labuan Bajo, NTT ini mencapai Rp1,2 triliun.

Mengenai perkiraan penghitungan total biaya operasional selama masa kerjasama dengan pihak konsorsium ini mencapai Rp5,73 triliun.

Perhitungan biaya operasional tersebut bakal dikuras habis pihak pengelola setidaknya hingga tahun 2045 atau 25 tahun masa kerja sama sejak pendandatangan MoU dilakukan.

Baca Juga: Usai Merugi Rp16 Miliar, Anak Usaha Pertambangan di Berau Kalimantan Timur Ini Bakal Rumahkan Ribuan Karyawan, Terungkap Alasan Sebenarnya

Sebagai informasi, nota kesepahaman antara Kementerian Perhubungan dan Konsorsium CAS mengenai pengembangan bandar udara Komodo ini telah dilakukan pada 7 Februari 2020.

Dalam skema kerja sama ini, pihak pengelola wajib membayar Rp5 miliar di awal untuk biaya konsesi di awal dan konsesi tahunan sebesar 2,5 persennya sebanyak 2 kali dalam setahun.

Baca Juga: Utangnya Rp644 Miliar, Induk Perusahaan Kontraktor Batu Bara di Berau Kalimantan Timur Ini Berpotensi PHK Ribuan Karyawan

Tahun selanjutnya biaya konsesi tahunan akan meningkat menjadi 5 persen seiring dengan capaian target jumlah penumpang yang diharapkan kian ekspansif setiap tahunnya.

Pihak pengelola diketahui memasang target setidaknya 4 juta penumpang setiap tahunnya mampu berlalu-lalang menggunakan jasa bandara tersebut.

Selain itu, ditargetkan pula besaran kargo yang bakal di-handle pihak bandara mencapai 3.500 ton di tahun 2044.***

Rekomendasi