Investasi Neom City 500 Miliar USD, Ironi Proyek The Line Arab Saudi Ini Sebabkan 3 Warga Suku Howeitat Dijatuhi Eksekusi Mati


inNalar.com –
Ambisi Arab Saudi dalam merealisasikan Proyek Neom City dipandang publik sebagai garapan kontroversial.

Bukan tanpa alasan, seorang warga suku Howeitat bernama Abdul Rahim bin Ahmed Mahmoud Al Huwaiti dilaporkan telah dieksekusi lantaran menolak proyek ini.

Kabar eksekusi mati yang dilakukan pada 13 April 2020 tersebut dikonfirmasi statusnya melalui MENA Rights Group.

Baca Juga: Anggarannya Rp772,9 Miliar, Proyek Jembatan yang Mangkrak Era SBY di Ambon Ini Bergeser 9 cm, Apa Penyebabnya?

Sehingga dapat dikatakan kabar eksekusi mati terhadap para penentang proyek futuristik bukan untuk pertama kalinya mencuat.

Lama tidak terdengar kabar, para pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan kekhawatiran terhadap proyek tersebut pada Mei 2023.

Pasalnya terdapat tiga nama penduduk Suku Howeitat selanjutnya yang statusnya diketahui akan mendapatan hukuman vonis mati.

Baca Juga: Laba Bersihnya Anlok, PT Lautan Luas Tbk (LTLS) Mencatatkan Penurunan Jumlah Utang

Ketiga anggota suku tersebut antara lain Shadly Ahmad Mahmpud Abou Taqiqa Al-Huwaiti, Ibrahim Salih Ahmad Abou Khalil al-Huwaiti, dan Atallah Moussa Mohammed al-Huwaiti.

Sementara ada tiga anggota Suku Howeitat lainnya yang mendapatkan vonis hukuman penjara tingkat berat.

Ketiga anggota suku yang mendapatkan vonis penjara berat itu di antaranya ada Abdelnasser Ahmad Mahmoud Abou Taqiqa al-Huwaiti yang dihukum selama 27 tahun.

Baca Juga: Injeksi Modal Anak Usaha, PT Lautan Luas Tbk Targetkan Pendapatan Tumbuh hingga 12 Persen

Selanjutnya Mahmoud Ahmad Mahmoud Abou Taqiqa al-Huwaiti dengan hukuman 35 tahun.

Selain itu, Abdullah Dakhilallah al-Huwaiti yang terkena hukuman penjara selama 50 tahun.

Melansir dari OHCHR, pihak otoritas dilaporkan dengan dugaan adanya perlakuan represif terhadap para warga yang lahannya akan dialihfungsikan menjadi sebuah kota futuristik Arab Saudi.

Baca Juga: Bagikan Dividen Senilai Rp77,74 Miliar, PT Lautan Luas Tbk Gelar Konsolidasi Bisnis Air, Tujuannya…

Kejadian tersebut tentu mengundang perhatian PBB dan MENA Rights mengawal permasalahan tersebut.

Sebagai informasi, Suku Howeitat adalah penduduk yang hidup semi-nomaden di hamparan wilayah Teluk Aqaba.

Suku tersebut telah hidup di tanah tradisional mereka jauh sebelum Arab Saudi berdiri sebagai sebuah negara pada tahun 1932.

Baca Juga: Dibangun Shell Pada 1904, Kilang Minyak Warisan Belanda di Sumatera Selatan Ini Sempat Jadi Sasaran Gempuran Saat Perang Dunia II, Masih Beroperasi?

Apabila ditarik mundur dalam historinya, nasab Suku Howeitat telah hidup secara turun-menurun sejak sebelum Perang Dunia I berkecamuk.

Sejak digaungkannya Proyek Neom City sebagai perwujudan dari cita-cita Saudi Vision 2030, pembangunan kota futuristik The Line menjadi program kontroversial.

Pasalnya usai aksi penolakan masyarakat suku terhadap proyek ini diutarakan melalui media sosial, kasus tersebut berlanjut hingga isu pihak otoritas melakukan tindakan represif pun terendus oleh PBB.

Baca Juga: Usianya Hampir 5 Abad, Daun Pintu Masjid di Banjarmasin Ini Terlapir Inskripsi Arab-Melayu, Bunyinya?

Membentang sepanjang 170 kilometer sebagai sebuah garis kota futuristik di Arab Saudi, arah pembangunan bermula dari Pegunungan Neom melewati gurun hingga ke arah Laut Merah.

Sebuah Ironi, konsep dasar Proyek The Line Arab Saudi adalah menjadikan kota tersebut sebagai pionir revolusioner yang menjadikan manusia sebagai prioritas utamanya, melansir dari NEOM.

Sementara pembangunan kota masa depan senilai 500 miliar USD tersebut telah memakan korban jiwa yang pihaknya belum mampu meninggalkan nilai histori masa lalunya.***

Rekomendasi