

inNalar.com – Pohon yang oleh penduduk setempat disebut kayu putih ini menarik ribuan pengunjung setiap bulannya.
Diketahui bahwa umur pohon kulit putih di Pura Babakan, Desa Tua, Kecamatan Marga, Bupati Tabanan, Bali berumur 700 tahun.
Pohon tersebut diperkirakan tingginya lebih dari 50 meter dan, layaknya fashion scene karena menjadi spot foto dengan berbagai titik.
Salah satu posisi favorit kebnayakan Masyarakat adalah lipatan akar yang seolah membungkus orang di baliknya.
Secara kasat mata, pohon kayu putih ini sangat indah, besar dan juga segar. Warna kulit batangnya selalu cerah.
Akar pohon terus menembus tanah dan muncul kembali ke permukaan. Bahkan, akar pohon tersebut sudah melilit pura yang terdapat disebelahnya.
Lokasi pohon ini dapat dicapai sekitar satu jam perjalanan dari Denpasar. Jalur wisata yang biasa dilalui adalah Jatiluwih dan Bedugul. Wisata sawah dan pegunungan di Tabanan.
Desa ini mendapat berkat atas kehadiran pohon besar yang memberikan banyak oksigen dan perlindungan.
Akarnya sangat halus dan dapat terlipat menjadi tempat persembunyian atau selimut raksasa.
Mendakinya seperti mendaki gunung. Manusia terlihat sangat kecil dibandingkan dengan pohon ini.
Tidak ada sejarah tentang pohon ini, hanya penjelasan lisan dari pengelolanya. Penduduk setempat percaya bahwa usianya adalah 700 tahun karena tidak ada saksi yang dapat menyimpulkan usia sebenarnya.
Wisata pohon ini dikelola oleh Pura Babakan, dari Komutas atau Dadia Pemaksan. Ramainya wisata wisata difasilitasi dengan hadirnya kafe dan warung di kawasan sekitar.
Baca Juga: Media Asing Soroti Kekuatan Militer Indonesia yang Makin Mengerikan, Bisa Bikin China Ketakutan?
Desa sepi ini hidup di titik pohon berada yang terlihat jelas dari kejauhan.
Karena lebar dan tingginya begitu menonjol, masyarakat dapat mengetahui posisinya dari jarak beberapa ratus meter.
Peta online juga dapat memandu para wisatawan yang ingin berkunjung, bernama ancient tree atau pohon kayu putih.
Karena bentuknya, pohon ini juga dapat ditemukan di dekat sumber air atau sungai, namun tidak ada yang sebesar pohon eucalyptus di desa kuno ini.
Ciri-cirinya mirip dengan pohon pada umumnya, dengan akar yang menonjol, akar yang membengkok seperti dahan, dengan cengkeraman pada daerah tebing.
Bahkan akan menempel seperti beton atau batu bata jika tumbuh dekat dengan dinding.
Tradisi dan ritual penyucian pohon dapat dengan mudah dilihat di Bali. Banyak pura yang dilindungi oleh pohon-pohon tinggi seperti beringin, pule, kepuh dan ficus.
Selain peranan ekologisnya yang penting, ia juga memiliki makna budaya dan sosial. Biasanya pepohonan di tempat suci ini ditandai dengan gulungan kain yang berwarna hitam putih atau merah, putih, dan hitam.
Pohon ini mempunyai ciri memiliki banir (buttreeses) yang sangat mencolok, yaitu lebar dan tinggi.
Daun dan ranting mempunyai bulu putih yang sangat halus. Daun rontok sebelum menguning atau kering.
Buah yang matang akan berwarna merah hingga keunguan, seperti banyak buah Ficus lainnya, juga disukai burung.
Ficus umum telah menyebar dari Asia Selatan, Indochina, Malaysia hingga Australia bagian utara.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi