

inNalar.com – Kota Bukittingi merupakan salah satu dari sekian banyaknya kota yang ada di Sumatera Barat.
Kota Bukittinggi memiliki luas wilayah sekitar 25,24 km persegi. Cukup kecil dibanding dengan wilayah di Provinsi Sumatera Barat lainnya.
Dulunya, Kota Bukittinggi pernah menjadi ibu kota Indonesia sebelum dipindah ke Jakarta.
Di Bukittinggi, ternyaa ada sebuah bangunan yang sangat mirip dengan Big Ben yang ada di London, Inggris.
Bangunan tersebut adalah Jam Gadang yang juga sering disebut sebagai monumen kebanggaan Kota Bukittingi.
Jam Gadang merupakan sebuah bangunan berbentuk jam yang terletak di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.
Jam Gadang sudah ada sejak era Hindia-Belanda. Bisa dikatakan bahwa bangunan jam ini adalah saksi bisu dari usaha rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.
Dibangun pada tahun 1926 atas inisiatif dari Hendrik Roelof Rookmaker, sekretaris Kota Fort de Kock (Saat ini Kota Bukittinggi).
Jam ini sendiri adalah sebuah hadiah dari Ratu Belanda, Wilhelmina.
Sedangkan orang yang merancang desain dari menara jam ini adalah Yazid Rajo Mangkuto.
Selanjutnya, peletakan baru pertama dilakukan oleh putra pertama Rookmaker.
Total biaya yang dihabiskan untuk membangun Jam Gadang adalah sekitar 3.000 Gulden.
Total biaya tersebut, jika menggunakan kurs sekarang, adalah sekitar 25,5 juta rupiah. Biaya ini tergolong sangat fantastis untuk pembangunan masa itu.
Jam Gadang memiliki denah dasar seluas tiga belas kali empat meter. Menara jam ini juga memiliki tinggi sekitar 26 meter.
Jam Gadang memiliki empat jam yang ada di tip sisinya dengan diameter masing-masing 80 cm.
Menariknya, empat jam tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda. Jam ini juga digerakkan secara mekanik oleh sebuah mesin hanya ada dua di dunia.
Dengan satu mesin ada di Jam Gadang, mesin satunya lagi ada di menara jam di London, Big Ben. Selain itu, pada bagian lonceng, terdapat nama dari pabrik pembuatan jam tersebut.
Nama dari pabrik itu adalah Vortmann Recklinghausen. Vortmann dalam nama tersebut mengacu pada Benhard Vortmann yang merupaakn pembuat dari jam tersebut.
Sedangkan Recklinghausen merupakan sebuah nama kota yang ada di Jerman. Kota tersebut juga merupakan tempat jam ini dibuat pada tahun 1892.
Sejak pembangunannya pada masa penjajahan Belanda, Jam Gadang sudah mengalami beberapa kali perubahan.
Perubahan terutama terjadi pada atap menara jam ini. Awalnya, bentuk atap Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan yang menghadap ke arah timur.
Kemudian, pada saat pemerintahan jepang, atapnya diubah menjadi bentuk pagoda.
Dan terakhir, saat Indonesia merdeka, atap dari Jam Gadang ini diubah menjadi bentuk gonjong.
Selain itu, hal unik lainnya dari menara jam ini adalah angka empat pada jamnya.
Jika umumnya angka empat ditulis dengan ‘IV’, pada Jam Gadang, angka empatnya ditulis dengan ‘IIII’.
Hal tersebut terjadi karena Belanda memiliki ketakutan tidak berdasar. Angka romawi ‘IV’ menurut pihak Belanda memiliki arti ‘I Victory‘.
Artinya, Belanda takut jika mereka tetap menggunakan ‘IV’ maka rakyat Indonesia akan menang dan bebas dari penjajahan.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi