

inNalar.com – Anies Baswedan baru-baru ini mengajak para pembalap Formula E untuk ngobrol bareng, bersama-sama membicarakan banyak hal dimana salah satunya terkait mengemudikan mobil Formula E yang ternyata lebih rumit.
Dibandingkan dengan F1, mobil Formula E sebenarnya cukup sulit mengatasinya. Anies Baswedan dan para pembalap juga berbincang mengenai Jakarta yang menjadi tempat diselenggarakannya kompetisi pada tahun 2022 ini.
Obrolan pun menyinggung isu transportasi dimana hakekatnya fungsi utama dari kendaraan, termasuk yang dikemudikan oleh para pembalap Formula E itu juga merupakan salah satu bagian masih berkaitan dan tidak jauh berbeda.
Tetapi kendaraan pada umumnya yang digunakan untuk transportasi masih menyisakan masalah, misalnya terkait polusi udara dimana ikut menyumbang sebab terjadinya perubahan iklim, Anies Baswedan dan para pembalap sempat membicarakan hal tersebut.
“Kami ngobrol panjang dari soal Jakarta, soal transportasi soal tantangan perubahan iklim,” ujar Anies Baswedan seperti dikutip inNalar.com dari ANTARA pada Kamis, 2 Juni 2022.
“Sampai soal usaha memperbanyak kendaraan yang ramah lingkungan,” tambah Gubernur DKI Jakarta itu membeberkan keseruannya ngobrol bareng para pembalap.
Pembicaraan para pembalap dan Anies Baswedan itu hingga memikirkan upaya untuk menambah jumlah transportasi yang tidak berdampak buruk bagi udara atau alam sekitar, sebagai sebelumnya dikatakan berdampak pada perubahan iklim.
Baca Juga: Anies Baswedan akan Berkunjung ke Negara Eropa Terkait Kerjasama Pembangunan MRT
Orang nomor satu di DKI Jakarta itu juga mengungkapkan rasa senangnya dapat saling berbagi pengalaman bersama peserta Formula E tersebut, para pembalap yang notabene juga memiliki latar belakang dan keahlian dalam bidangnya.
“Senang bisa ngobrol leluasa dengan para pembalap itu,” kata Anies Baswedan menjelaskan tentang obrolan yang terjadi diantara dirinya dan para pembalap.
Perbincangan panjang tersebut membuat Gubernur DKI Jakarta itu berkesimpulan bahwa mengendarai mobil balap Formula E lebih sulit dari pada F1, sebabnya yaitu pada energi listrik yang digunakan.
Para pembalap Formula E selain mengatur strategi agar meraih kemenangan, juga harus memperkirakan kondisi persediaan betrei yang ada, berbeda dengan F1 dimana berbahan bakar minyak.
Pembalap F1 cenderung lebih leluasa dalam mengatur strategi untuk kecepatan saja, dan tidak terlalu rumit memerkirakan bahan bakarnya.
“Dari ngobrol-ngobrol dengan mereka semalam, makin mengkonfirmasi bahwa mengemudikan mobil Formula E itu lebih rumit,” kata Anies Baswedan menyimpulkan pembicaraan dengan para pembalap Formula E itu.
“Formula E itu lebih rumit dibanding Formula Satu karena harus memperhitungkan energi baterai,” tambahnya lagi.
Orang nomor satu di DKI Jakarta itu juga menyebutkan beberapa pembalap Formula E yang awalnya adalah peserta F1, antara lain Stoffel Vandoorne,Pascal Wehrlein, dan Sebastien Buemi.***