Intip 7 Rumah Adat Khas Sulawesi Selatan yang Memiliki Nilai-nilai Budaya, Salah Satunya Punya 99 Tiang


inNalar.com –
Sulawesi Selatan merupakan provinsi yang terletak di Selatan Pulau Sulawesi dengan kekayaan alam dan beraneka ragam budayanya, salah satunya rumah adat.

Salah satu yang mempunyai ciri khas tersendiri adalah rumah adat yang ditempati oleh warganya, tak hanya unik rumah-rumah ini juga memilki makna yang bernilai budaya.

Berikut 5 macam bentuk rumah adat khas yang ada di Sulawesi Selatan:

Baca Juga: 29 Ribu Km Jalan Lampung Rusak, PUPR Renovasi Penghubung Lintas Tengah, Timur, Barat yaitu di Ruas…

  1. Rumah Adat Bugis

Rumah adat suku Bugis ini terbuat dari bahan kayu dengan atap berpalang ganda dan dihubungkan dengan bubungan memanjang pada bagian sampingnya, nanti di gambar sirap atau seng.

Rangka berupa balok dan kolom disambung tanpa paku dan membentuk huruf “H”. penyangga lantai dan atap. Dinding rumah hanya menempel pada kolom luar.

Sedangkan bagian atas rumah disebut botting langi atau rakkeang seperti bagian atasnya. Bagian ini dirancang untuk menyimpan makanan dan benda pusaka serta ruang untuk anak perempuan lajang.

Baca Juga: Ada Sejak Zaman Kerajaan Kutai, Desa Tertua di Kalimantan Timur Ini justru Baru Merasakan Listrik Tahun Lalu?

Status pemilik dalam kehidupan sosial masyarakat Bugis menentukan jenis perumahan. Jika seseorang mempunyai kedudukan yang tinggi seperti raja dan keturunannya adalah bangsawan maka rumah yang ditinggali orang tersebut disebut raja bintang. Sedangkan rumah yang dihuni oleh masyarakat biasa disebut dengan bola.

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara bintang raja dan bola jika dilihat dari bentuk rumahnya. Perbedaannya hanya pada ukuran, luas dan jumlah kolom yang disebut timba sila atau sambulayang. Semakin tinggi jumlah timba sila maka semakin tinggi pula status sosial pemilik rumah tersebut.

  1. Tongkonan

Tongkonan merupakan lambang eksistensi dan jati diri suatu keluarga atau masyarakat di suatu daerah. Rumah adat ini mempunyai arsitektur bangunan yang sangat khas dan hiasan ukiran yang indah. Biasanya rumah adat ini dibangun di atas tiang yang tinggi dan memiliki atap yang miring. Bahan utama pembuatan tongkonan adalah kayu yang kokoh dan tahan lama.

Baca Juga: Tidak Hanya Bugis, Inilah 8 Suku di Sulawesi Selatan yang Budayanya Tersebar di 24 Kabupaten

Salah satu keistimewaan Tongkonan yang menarik adalah bentuk atapnya yang menyerupai perahu terbalik. Atap Tongkonan terbuat dari ijuk atau daun jerami yang disusun rapi dan direntangkan ke atas.

Bentuk atap ini melambangkan kepercayaan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap nenek moyang yang datang dari laut dan berlayar dengan perahu. Selain itu, Tongkonan memiliki ukiran rumit dan simbol tradisional yang memiliki makna filosofis.

Didalamnya terdapat ruangan utama yang disebut “lare-lare”. Ruangan ini merupakan tempat berkumpulnya anggota keluarga dan tamu yang berkunjung. Lare-lare juga sering menjadi tempat diadakannya upacara adat, pernikahan, pertemuan masyarakat atau kegiatan budaya lainnya.

  1. Rumah Adat Bola Soba Sulawesi Selatan

Bola Soba merupakan rumah adat suku Bugis-Makassar. Rumah adat ini mempunyai bentuk yang berbeda dengan tongkonan, seperti rumah panggung dengan banyak tiang penyangga yang menopang badan rumah. Kata “bola soba” dalam bahasa Indonesia berarti persahabatan. Oleh karena itu, rumah bola soba berarti rumah persahabatan.

Awalnya Bola Soba berfungsi sebagai istana Raja Bone ke-30, La Pawawoi Karaeng Sigeri pada tahun 1890. Kemudian ditempati oleh Putra Mahkota La Pawawoi Baso Pagilingi Abdul Hamid, yang kemudian diberi nama Petta Ponggawae (Penguasa) dari Kerajaan dari Tulang.

Saat Petta Ponggawae tinggal di rumah ini, terjadi perubahan pada overhang atau tumpang tindih rumahnya. Awalnya ada lima ketukan, kemudian menjadi empat. Dalam pola hidup masyarakat Bugis eks, rumah timpa’laja berjendela lima diperuntukkan bagi rumah raja sedangkan rumah timpa’laja berjendela empat diperuntukkan bagi rumah putra raja.

  1. Boyang

Dari luar, rumah adat di Boyang sangat mirip dengan rumah adat di Sulawesi seperti Bugis dan Makassar. Namun jika dicermati, Anda akan melihat bahwa rumah ini memiliki keunikan tersendiri.

Rumah Boyang merupakan rumah adat suku Mandar yang melambangkan nilai dan prinsip hidup luhur. Rumah ini terbuat dari bahan kayu dengan tiang-tiang sebagai penyangga struktur rumah.

Yang unik adalah tiang-tiangnya tidak menempel pada tanah. Tiang-tiang ini hanya diletakkan di atas lempengan batu datar untuk melindungi kayu dari pembusukan.

Rumah Boyang didesain dengan dua anak tangga, satu di depan dan satu lagi di belakang, dengan jumlah anak tangga tujuh hingga tiga belas. Di dinding rumahnya sering terdapat plakat yang diukir dengan desain suku Mandar.

Tipe rumah Boyang ada dua yaitu Boyang Adaq dan Boyang Beasa. Boyang Adaq dikhususkan untuk keluarga bangsawan sedangkan Boyang Beasa diperuntukkan bagi masyarakat biasa.

  1. Balla To Kajang

Masyarakat Makassar yang tinggal di pesisir barat daya Sulawesi menyebut rumah adatnya Balla. Dahulu, rumah adat ini identik dengan rumah yang digunakan oleh kaum bangsawan. Desainnya mirip dengan desain rumah adat lain di Sulawesi Selatan, yaitu model rumah panggung.

Rumah adat ini berbentuk lebar dan tinggi dengan 10 tiang yang menjulang tinggi. Balla To Kajang memiliki ketinggian hingga 3 meter sehingga tidak heran jika terdapat banyak ruangan besar di dalamnya.

Area luar rumah berbentuk dego-dego, sedangkan ruang tamu di samping pintu utama berbentuk paddaserang dalekang. Ruang tamu digunakan oleh keluarga dan terdapat ruang khusus wanita di bagian belakang.

Balla juga memiliki makna filosofis khusus dalam arsitekturnya. Misalnya pada puncak atap terdapat segitiga yang disebut timbaksela, lambang kebangsawanan.

  1. Banua Maoge Wotu

Di Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Anda bisa menemukan rumah adat Banua Maoge yang artinya rumah besar. Uniknya, rumah adat ini berjumlah 99 tiang.

Pada zaman dahulu, rumah adat ini digunakan sebagai pusat kebudayaan masyarakat dan tempat menyimpan barang-barang berharga Macau Bawalipu, kepala daerah setempat. Namun kini, pemuda setempat telah membawanya ke era modern dengan mengubahnya menjadi kedai bernama Kedai Tarampeo Coffee 29 Wotu.***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]