Inovasi Mutakhir Bernilai Rp 3 Triliun di NTT, Ada Jembatan Bisa Jadi Pembangkit Listrik Daerah?

inNalar.com – Jembatan penghubung Nusa Tenggara Timur (NTT) wilayah Larantuka sebagai Ibu Kota Flores Timur dengan kepualaun Adonara menjadi infrastruktur yang dengan keunggulanya sebagai pembangkit listrik.

Perencanaan pembangunan jembatan ini sebenarnya sudah diusulkan sejak 8 tahun sejak tahun 2016 lalu, karena masih belum memenuhi kelayan ekonomi.

Jalan penghubung ini nantinya akan dipasangi sebuah pembangkit listrik tenaga arus listrik (PLTAL) agar bisa menopang energinya sendiri.

Baca Juga: Niat Ingin Lejitkan Ekonomi, AS Malah Jadi Ancaman Dunia Gegara Proyek Mahal Senilai USD 6 Miliar Ini

Pembangunan infrastruktur jalan penghubung ini telah didiskkusikan dengan 4 instasi pemerintahan yaaitu Kementerian PUPR, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Pemerintah Daerah NTT, dan Direktur Utama PT Tidal Indonesia selaku tender untuk pembangunan.

Infrastruktur tersebut juga disebutkan kedalam didalam kerjasama di bidang energi antara pemerintahan Indonesia dengan negara asing yaitu pemerintahan Belanda.

Kerjasama yang terjalin tersebut tertuang dalam perjanjian bentuk HoA (Head off Agreeement)antara Pemda NTT dengan PT Tidak Bridge BV dari Belanda.

Baca Juga: Sempat Hiatus Gegara Sengketa Lahan, Bendungan Rp2,7 Triliun Ini Akhirnya Jadi Simbol Kemakmuran NTT

Pengembangan ini akan terus digencarkan pada tahun 2024 karena program ini masuk kedalam Proyek Strategis Nasional (PSN) karena salah satu tindakan Indonesia untuk masuk ke transisi energi dari tenaga fosil berpindah ke energi baru terbarukan.

Jembatan Pancasila Palmerah adalah nama dari infrastruktur jalan penghubung ini dan akan menjadi sebuah percontohan untuk infrastruktur lainya.

Menurut CEO Tidel Bridge BV dari Belanda, dia mengungkapkan bahwa proyek ini adalah proyek yang paling inovatif di dunia, karena belum ada bridge yang digabungkan dengan pembangkit listrik.

Baca Juga: Rasio Kredit Macet Melandai, Ini 3 Strategi Cantik BRI Jaga dan Tingkatkan Kualitas Aset

Indonesia memiliki potensi geografis yang dapat dilihat dari berbagai macam pulau dipisahkan oleh laut, hal ini akan menjadi ladang perkembangan inovasi teknologi energi terbarukan seperti di NTT.

Kontruksi Jembatan Pancasila Palmerah akan dibangun dengan panjang 800 meter yang terdiri dari berbagai bagian.

Jarak 250 meter arah Larantuka dan 150 meter menuju arah Adonara merupakan kontruksi sipil, sedangkan 400 meter sisanya yang berada di tengah merupakan jembatan tidal.

Baca Juga: Gelombang Laut Capai 25 Meter! Selat Mematikan Dekat Amerika Selatan Ini Lahap 800 Kapal hingga 20 Ribu Nyawa

Dimana terdapat pada rentang 400 meter tersebut akan digantungkan semacam turbin untuk menghasilkan energi listrik dari arus laut.

Turbin yang nantinya dipasang akan berbentuk seperti “laci meja” yang digantung, untuk masalah perawatan turbin bisa dilakukan dengan pemasangan ataupun pengeluaran lewat kolong jalan.

Berdasarkan hasil riset Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Environmental and Social Impact Assessment (ESIA).

Baca Juga: Tak Hanya Mandalika, Sirkuit Standar Internasional Sedang Dibangun di Jawa Timur, Dananya Habis Rp34 Miliar!

Bangunan ini tidak memiliki masalah terhadap lingkungan sekitar yang menyebabknya berbahaya bila dibangun.

Anggaran untuk pengerjaan proyek jalan hubung yang dilengkapi pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL) sebesar Rp 3 triliun atau US$ 225 Juta.

Untuk masalah skema pembiayaan pemerintah didukung oleh pinjaman lunak Bank Pembangunan Belanda atau Nederlandse Financierings-Maatschappij voor Ontwikkelingslanden (FMO).

Dengan durasi pinjaman selama 20 tahun namun, jika sudah melakukan FEED (Front End Engeneering and Desaign) maka bank belanda akan memberikan Indoensia hibah atau harta secara sukrela sebesar 35 persen jadi negara hanya mempunya hutang 65 persen dari total pembiayaan.

Kapasitas listrik yang bisa dihasilkan dari pembangkit listrik Selat Larantuka sebesar 300 MegaWatt namun, untuk rencana awal PT Tidal akan memasang power plant yang berkapasitas 40 MegaWatt.

Kontruksi jalan hubung ini akan didesain sampai 50 tahun kedepan, karena Bangunan ini akan membiayai dirinya sendiri melalui revenew dari hasil penjualan listrik PLTAL yang dimanfaatkan oleh PLN.

Penggunaan teknologi arus seperti inisudah digunakan oleh banyak negara dan saat inilah Indonesia akan mengikuti langkah mereka untuk mendapatkan energi.

Seperti Belanda, United Kingdom atau Inggris, Prancis, Korea dan Portugal, dari semula turbin ditanam dibawah laut sampai dapat digantung mengapung diatas air.

Guna menjaga lingkungan yang berada di sekitar sehingga dapat memenuhi standar green peace yang tidak merusak atau mengganggu biota laut.

Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat antusias dengan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah yang berteknologi paling canggih di seluruh Indonesia.***(Wahyu Adji Nugraha)

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]