Inilah Masjid Tertua di Kalimantan Selatan yang saat Ini Masih Kokoh, Benarkah Peninggalan Kerajaan Demak?

inNalar.com – Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), terdapat sebuah masjid peninggalan kerajaan Demak yang dianggap tertua di Kalimantan Selatan menurut bukti sejarah yang masih berdiri.

Bangunan yang terletak di desa Pelajau, kecamatan Pandawan ini dikenal sebagai masjid suci dan bangunannya memiliki kubah yang sama dengan masjid pada masa kerajaan Demak dan tercatat pembangunannya dilakukan pada abad ke-14

Diketahui, pada saat itu utusan Raden Fatah berasal dari kerajaan Islam Demak, bersama para pangeran kerajaan Banjar, utusan dari pulau Jawa berjumlah tujuh orang di tanah Banjar.

Baca Juga: Dananya Rp900 Juta, Jembatan di Sumatera Selatan Ini Sempat Jadi yang Terpanjang se-Asean, Bisa Tebak?

Mereka menyusuri Sungai Negara (HSS), dilanjutkan ke sungai Buluh dan Ilir Pemangkih (HST) hingga mencapai Sungai Palayarum di desa Pelajau untuk melakukan perluasan kekuasaan Islam.

Sesampainya di Pelajau, timnya memulai pembangunan masjid bersamaan dengan program pengembangan Islam Kerajaan Demak Bintaro yang telah membangun sembilan masjid.

Masjid Pelajau diyakini merupakan masjid kelima dari sembilan masjid yang dibangun Kesultanan Demak.

Baca Juga: Dananya Rp900 Juta, Jembatan di Sumatera Selatan Ini Sempat Jadi yang Terpanjang se-Asean, Bisa Tebak?

Jadi jumlahnya sesuai dengan nomor Wali Songo yaitu sembilan orang.

Terdapat prasasti yang dipahat dalam bahasa Jawa pada kolom-kolom menara dan terdapat prasasti tentang tempat, nama tanggal dan waktu pembangunan masjid.

Pada kolom tersebut terdapat lubang panjang yang berisi dokumen-dokumen berisi kitab Allah, berisi silsilah orang-orang yang ikut serta dalam pembangunan masjid.

Baca Juga: Mangkrak 13 Tahun, Bangunan Kantor di Lampung Luasnya 1,69 Hektar Ini Bikin Tekor Negara hingga Triliunan

Selain itu, ada sanggul Raden Fatah, keris yang melengkung sembilan, dan tombak berbentuk segitiga dengan ukiran sembilan Wali.

Begitu pula pada kubah mimbar, juga digunakan motif pohon kehidupan.

Dalam cara Dayak disebut Batang Garing yang melambangkan kesatuan antara dunia atas dan bawah, konsep ganda seperti siang dan malam, terang dan gelap, kejahatan atau yang lain, hidup dan mati.

Masjid Keramat Pelajau juga menjadi bukti perjuangan melawan kolonialisme Belanda di masa lalu, khususnya di Kalimantan Selatan.

Saat ini masjid telah direnovasi namun tidak mengalami perubahan tampilan aslinya dan beberapa barang bersejarah juga disimpan oleh penjaga masjid untuk mencegah hilang atau dicuri.

Namun, setiap hari masyarakat mengunjungi masjid untuk berdoa dan memohon doa agar keinginannya terkabul.

Mereka meyakini masjid ini memiliki sejarah dan rahasia penyebaran Islam di Kalimantan Selatan.

Lokasi masjid ini berjarak sekitar tiga kilometer dari kota Barabai, ibu kota Bupati HST dan dikelola masyarakat di atas lahan seluas 400 meter persegi.***

Rekomendasi