

inNalar.com – Pada awal kepemimpinan presiden Soeharto, pemerintah melakukan pembangunan besar-besaran di sejumlah bidang.
Salah satu fokus dari pemerintah Orde Baru masa kepresidenan Soeharto adalah di bidang pertanian.
Presiden Soehartp berfokus pada penambahan hasil produksi beras dalam negeri.
Awalnya, Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor beras terbesar di Indonesia.
Sementara itu, produksi beras dalam negeri hanya mencapai 12 juta ton pada tahun 1969.
Hal tersebut yang memacu pemerintah untuk terus melakukan upaya peningkatan hasil produksi beras.
Upaya peningkatan hasil produksi beras tersebut ditempuh melalui intensifikasi pertanian dan ekstensidikasi pertanian.
Kemudian, terdapat program Bimbingan masal atau BIMAS yang menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan hasil produksi beras.
Program BIMA disempurnakan menjadi Bimas Nasional melalui keputusan Presiden No.95 tahun 1969.
Program tersebut yang kemudian berhasil membawa Indonesia mencapai swasembada pangan pada tahun 1984.
Mencapai keberhasilan swasembada pangan tersebut tentunya memiliki tantangan lanjutan yakni bagaimana strategi untuk mempertahankannya.
Melalui video yang diunggah oleh akun Youtube/President Files dimana Soeharto mengatakan bahwa pemerintah terus berupaya untuk mempertahankan label swasembada beras dan salah satunya dengan ekstensifikasi atau menambah area sawah.
Selain itu juga terdapat upaya intensifikasi pertanian yaitu menekan biaya pengeluaran, serta meningkatkan produktivitas.
Peningkatan produktivitas tersebut dilakukan menggunakan metode baru yakni pupuk urea tablet.
Pupuk urea tablet terhadap pertanian dinilai memangkas atau menghemat biaya hingga 20 persen.
Strategi ketahanan pangan pada era Soeharto ini sendiri ternyata kini digunakan di India.
Kini, pupuk yang digunakan di India merupakan pupuk pil yang memangkas biaya produksi.
Metode tersebut tampaknya berhasil dan India menjadi negara kedua penghasil beras terbesar di Dunia. ***