Inilah Alasan Presiden Soeharto Jarang Mengenakan Atribut Lengkap, Tanpa Pangkat Bintang dan Tanda Jabatan

inNalar.com – Presiden Soeharto merupakan presiden dengan masa kepemimpinan paling lama di tanah air.

Berbeda dengan Presiden Soekarno yang sering mengenakan atribut lengkap, Presiden Soeharto cenderung terlihat jarang menampilkannya.

Soeharto terbilang jarang menggunakan tanda kepresidenan pada atributnya.

Baca Juga: Intip Perjalanan Karir Cemerlang Soeharto, Berawal dari Kopral sampai Menjadi Presiden Terlama di Indonesia

Tentu keputusan tersebut menyimpan banyak alasan yang masih belum banyak orang ketahui.

Melansir dari akun TikTok @perjalanan.bangsa.45, berbagai alasan tersebut terungkap dalam sebuah buku yang berjudul Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.

Buku tersebut menceritakan bahwa presiden kedua RI ini saat masa kepemimpinannya lebih konsisten untuk tidak mengenakan atribut lengkap.

Baca Juga: Misterius! Ayah Soeharto Miskin, Tapi Mampu Beri Hadiah Seekor Kambing, Siapakah Dia Sebenarnya?

Baik itu pangkat bintang, tanda jabatan, bendera kepresidenan, dan elemen lainnya.

Umumnya, atribut tersebut sangat identik dengan jabatan sang presiden saat memimpin tanah air.

Akan tetapi, ia tetap mengenakannya pada saat-saat yang istimewa.

Baca Juga: Telan Rp1,7 Triliun! Mega Proyek Soeharto Lahan Gambut 1 Juta Hektar Kalimantan Tengah Ini Rugikan Negara?

Terlebih, presiden dengan masa jabatan paling lama ini juga memiliki pandangan tersendiri.

Menurutnya, peran panglima tertinggi tidak hanya bergantung pada tampilan fisik atau atribut tertentu yang dikenakan.

Melainkan pada kemampuan mereka dalam dalam mengemban tanggung jawab komando dalam angkatan peran.

Pandangannya sendiri, konstitusi di Indonesia sudah jelas memberitahukan bahwa seorang presiden memiliki kekuasaan tertinggi dibanding angkatan perang.

Tidak heran jika penggunaan atribut lengkap tersebut tidak mutlak harus digunakan.

Ia juga menegaskan bahwa penguasaan angkatan perang merupakan hal yang sah serta melekat pada jabatan kepresidenan.

Presiden Soeharto memang terkesan menolak dalam mengenakan artibut-atribut fisik pada pakaiannya.

Meski begitu, ia ingin menunjukkan bahwa kekuasaannya dilihat berdasarkan kualitas kepemimpinan.

Bukan hanya terdapat pada simbol-simbol atribut secara visual saja.

Hal ini berarti, seorang pemimpin negara dapat memimpin dan memberikan komando angkatan perang tanpa harus mengandalkan simbol atau tanda-tanda tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa lebih ingin hidup dengan kesederhanaan agar lebih fokus pada esensi tanggung jawab dan kepemimpinannya di tanah air.

Kemampuan tersebut jauh lebih penting daripada harus menampilkan atribut lengkap secara formal.

Saat masih aktif sebagai anggota ABRI, maka ia akan mengenakannya. Akan tetapi, saat sudah menjadi presiden maka dirasa tidak perlu.

Sikap Soeharto tersebut mengartikan bahwa pangkat presiden dengan pangkat militer adalah dua hal yang dapat dipisahkan secara jelas.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]