

inNalar.com – Perkembangan kepercayaan pada masyarakat praaksara muncul ketika manusia menemukan peradaban di antara sesuatu yang hidup dan sesuatu yang mati.
Kepercayaan yang dianut oleh nenek moyang banyak berkembang setelah memasuki zaman megalithikum atau zaman batu besar.
Kebudayaan megalitikum adalah suatu kebudayaan yang berkaitan dengan sistem kepercayaan dan kehidupan religius manusia praaksara. 4 kepercayaan itu antara lain :
Baca Juga: 6 Hasil Kebudayaan Masa Megalitikum, Sarana Nenek Moyang untuk Pemujaan Roh
1. Animisme.
Kepercayaan animisme berasal dari bahasa latin anima atau “roh”. Kepercayaan kepada mahluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif.
Aliran animisme mempercayai bahwa setiap benda di bumi ini, (seperti kawasan tertentu, gua, pohon, atau batu besar) mempunyai jiwa yang mesti di hormati.
Jiwa-jiwa tersebut disembah atau diyakini agar tidak mengganggu manusia. Roh juga diharapkan mampu membentengi mereka dari roh jahat.
Baca Juga: Alfatihah! Ayah dari April Jasmine, Mertua Ustadz Solmed Meninggal Dunia
2. Dinamisme.
Dinamisme (dalam kaitan agama dan kepercayaan) adalah pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal dan menetap di tempat-tempat tertentu, seperti pohon-pohon besar.
Arwah nenek moyang itu sering di mintai tolong untuk urusan mereka.
Caranya adalah dengan memasukkan arwah-arwah mereka ke dalam benda-benda pusaka seperti batu hitam atau batu merah delima dan lain sebagainya.
Ada pula yang menyebutkan bahwa dinamisme adalah kepercayaan yang mempercayai terhadap kekuatan yang abstrak yang berdiam pada suatu benda. Istilah tersebut disebut dengan mana’.
Baca Juga: Sutradara Ukraina Jadikan Kamera sebagai ‘Senjata’ Perlawanan terhadap Invasi Rusia
3. Totemisme
Totemisme merupakan faham yang meyakini bahwa manusia memiliki hubungan kekeluargaan dengan binatang.
Kemudian keyakinan ini mengarahkan pengikutnya untuk meyakini bahwa ada beberapa binatang yang memiliki kekuatan gaib, lalu mereka mengkeramatkan binatang-binatang tersebut, bahkan sampai memujanya.
4. Fetish
Fetish diambil dari bahasa latin “facticius” dengan padanan kata “artificial” and “facere”, “to make”, yang berarti sebuah benda yang di percayai memiliki sebuah kekuatan magis atau spiritual.
Fetisisme meyakini terhadap adanya kekuatan sakti dalam benda tertentu dan segala kegiatan untuk mempergunakan benda-benda sakti dalam ilmu gaib. Masyarakat kita lebih mengenalnya dengan jimat.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi