Indonesia Digadang Bakal Hasilkan Listrik 56,97 GW dari Bioenergi, Nasib PLTU Energi Fosil Akan Pensiun?

inNalar.com – Indonesia mempunyai sebuah harta karun yang dapat menghasilkan listrik sebesar 56,97 Gigawatt yakni berupa Bioenergi.

Potensi sumber bioenergi di Indonesia sangat besar jika digunakan sebagai sumber energi di masa depan.

Bioenergi sendiri dapat menggantikan energi fosil di hampir seluruh bidang, seperti industri, rumah tangga, ketenagalistrikan dan juga transportasi.

Baca Juga: Salatiga Jateng Masuk Nominasi Kota Kreatif UNESCO, Ini Segudang Prestasinya, Salah Satunya Anti Wacana Club!

Penggunaan bioenergi akan menjadi sumber energi yang lebih baik terutama pada produk biomassa.

Hal ini akan meningkatkan rasio elektrifikasi dan dapat diproyeksikan untuk membantu peningkatan ketahanan energi dalam negeri.

Ego Syahrial selaku Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI Bidang Strategi Percepatan Penerapan Energi Transisi dan Pengembangan Infrastruktur Energi mengungkap jika indonesia memiliki potensi bioenergi setara dengan 56,97 Gigawatt (GW).

Baca Juga: Berdiri Tahun 1989, Pabrik Petualangan Asal Bandung Ini Dibangun Hanya Bermodalkan Rp1 Juta dan 2 Mesin Jahit

“Di Indonesia ini memiliki potensi bioenergi dari sumber biomassa yang sangat besar yaitu setara dengan 56,97 Gigawatt listrik,”ungkapannya

Dirinya juga mengungkapkan jika pada tahun 2060 mendatang Indonesia akan membangun 700 Gigawatt lebih pembangkit energi terbarukan.

“Di tahun 2060 mendatang Indonesia akan mempersiapkan membangun lebih dari 700 Gigawatt pembangkit energi terbarukan dan 60 Gigawatt nantinya akan berasal dari pembangkit listrik bioenergy,” ujarnya.

Baca Juga: Bisa Makan Kotorannya Sendiri? Yuk Simak 10 Fakta Unik Tentang Kelinci yang Jarang Diketahui, Penuh Kejutan!

Dilansir inNalar.com dari laman situs Kementerian ESDM, selain itu dengan memanfaatkan biomassa dalam pembangkit listrik, sumber daya ini jika dapat dioptimalkan melalui program co firing biomassa.

Co Firing biomassa ini digunakan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Batubara (Coal Fired Power Plant/CFPP) yang telah ada.

Pada penerapan co firing sendiri sudah dilaksanakan pada 2020 dengan blending rate 1 persen sampai 15 persen, hal ini tergantung pada jenis boiler serta ketersediaan bahan baku.

Nantinya Biomass-co firing akan diterapkan sebanyak 113 unit PLTU milik PLN yang akan tersebar di 52 lokasi dengan total kapasitas sebesar 18.664 Megawatt.

Penerapannya nanti akan menggunakan bermacam sumber biomassa seperti serpihan kayu, serbuk gergaji, dan limbah sawit dengan tingkat pencampuran 5 sampai 15 persen.

Lalu di tahun 2023 ini, co firing akan diterapkan di 42 lokasi. Proyek ini akan dapat menghasilkan sebesar 2.740 Gigawatt energi ramah lingkungan dengan mengonsumsi sebanyak 2,2 juta ton biomassa.

Diketahui sampai semester pertama tahun ini, cofiring telah diaplikasikan ke 36 lokasi dan menghasilkan energi hijau sebesar 325 Gigawatt.

Hal ini sama dengan mengurangi emisi sebesar 321 ktCO2 dengan total biomassa yang digunakan pada pembangkit listrik tersebut adalah sebesar 306 kilo ton.

Sebagai bentuk upaya mendukung pengembangan cofiring, Kementerian ESDM saat ini telah menyelesaikan peraturan menteri terkait penerapan co firing pada PLTU yang telah ada.

Adapun tujuan pembakaran dengan biomassa pada PLTU diantaranya adalah untuk memenuhi sektor perekonomian penyediaan tenaga listrik,

Selain itu juga sebagai peningkatan pangsa energi terbarukan dalam bauran energi nasional dan juga mengurangi emisi gas rumah kaca serta “menghijaukan” PLTU lebih cepat.***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]