

inNalar.com – Acara Diskusi Ilmiah ‘Bincang Isu Timur Tengah’ tingkat internasional sukses digelar IMABTA UGM dan PPIDK Timtengka secara daring pada Jumat, 17.00 – 19.00 WIB.
Topik strategis yang diangkat dalam ‘Bincang Isu Timur Tengah’ kali ini bertajuk identitas dan eksil dalam karya sastra Arab kontemporer.
Akhir-akhir ini, eksil menjadi fenomena paling mendesak di wilayah Timur Tengah sehingga para panitia dari IMABTA UGM dan PPIDK Timtengka menilai topik ini relevan untuk dibahas.
Adapun topik yang berkaitan dengan eksil disebut tidak bisa terlepas dari persoalan identitas.
“Mengapa para sastrawan berbicara tentang kenangan tanah airnya? Karena itu merupakan identitasnya. Identitas itulah yang membentuk diri mereka,” tutur Ibu Hindun.
Uniknya acara kali ini pun fenomena identitas dan eksil yang terjadi di kawasan Timur Tengah dilihat dari bagaimana para sastrawan Arab menggambarkannya dalam karya sastra Arab.
Lebih terangnya, sang narasumber acara mengulik fenomena melalui jendela karya sastra Arab kontemporer.
Sebagai informasi, pemateri acara diskusi pada malam hari ini adalah seorang dosen Magister Kajian Budaya Timur Tengah, Dr. Hindun, M. Hum.
Mengulas sedikit mengenai beliau, Ibu Hindun merupakan seorang pengamat sastra Arab khususnya untuk wilayah Palestina.
Ibu Hindun berhasil menarik perhatian para peserta kegiatan IMABTA UGM dan PPIDK Timtengka berkat suara irama merdunya saat membacakan salah satu syair Arab.
Diskusi mengalir secara dua arah dan pemateri berhasil memikat para penyimak usai beliau mengungkap sederetan karya sastra Arab kekinian yang bisa menjadi rekomendasi bahan bacaan dan penelitian isu terkini.
Lebih mudahnya, ketika kita berbicara tentang eksil, maka pembahasannya tidak akan lepas dari identitas.
Salah satu karya sastra yang menjadi cermin realitas sosial masyarakat Arab yang terasingkan, yaitu puisi Palestina berjudul ‘Bithaaqah Huwwiyyah’ karya Mahmoud Darwish.
Dr Hindun, M. Hum mengungkap bahwa karya sastra sangat mampu mempengaruhi pola pikir masyarakatnya.
Contohnya adalah penyair Palestina Mahmoud Darwish yang kandungan puisinya berbicara tentang identitas dan eksil.
“Mahmoud Darwish dipenjara enam kali karena masyarakat (Palestina) hafal puisinya yang berjudul Bithaaqah Huwwiyyah” terangnya.
Di samping itu, dunia sastra Arab kontemporer semakin berkembang pesat.
Terbukti, semakin banyak sastrawan Arab yang menulis karya mereka dengan menggunakan Bahasa Inggris.
Hal tersebut karena para sastrawan Arab yang berdiaspora ke Amerika dan negara barat lainnya mampu menyampaikan pesan mereka ke masyarakat dunia lebih cepat dan tidak terbatas dipahami oleh para penutur Bahasa Arab.
Sebagai contoh, sastrawan Arab kontemporer yang satu ini adalah jurnalis sekaligus novelis Rawi Hage kelahiran Lebanon. Ia diketahui berdomisili di New York, Amerika Serikat.
Selain itu, ada pula Mona Simpson yang terlahir dari ayah berkebangsaan Syria dan Ibunya yang merupakan campuran Swiss-German Amerika.
Baca Juga: Tampung 220 Siswa, Sekolah Berasrama di Kenya Ini Biaya Asramanya Capai Rp312 Juta
Novelis Mona Simpson, kerabat dari Steve Jobs ini menjadi salah satu contoh sastrawan berdarah Arab yang kini tinggal di Amerika Serikat.
Selanjutnya, Ibu Hindun membagikan contoh karya sastra Arab diaspora terkemuka yang dapat ikut dibaca oleh pecinta sastra.
Contohnya, Prosa Yad Al-Qadha dalam Buku ‘Ajnihah Al Mutakassirah‘ karya Gibran Khalil Gibran.
Baca Juga: Didirikan Sejak Tahun 1909, SMA Elon Musk di Afrika Selatan Ini Sempat Tidak Beroperasi, Kok Bisa?
Dari apa yang diungkapkan oleh Ibu Hindun, dapat dipahami bahwa isi pembahasan dari karya sastra arab eksil bercerita tentang kejadian yang pernah mereka alami di tanah airnya.
Biasanya para sastrawan menyisipkan simbol seperti tanaman, rumah, pakaian dan lainnya dalam karya sastra mereka.
Di dalamnya terdapat irama penceritaan khas dengan tujuan mengajak para pembaca untuk merasakan apa yang mereka rasakan.
Sebagai informasi, acara ‘Bincang Isu Timur Tengah’ diawali dengan ungkapan sambutan dari Ketua Departemen Antarbudaya FIB UGM, Prof. Dr. Sangidu, M. Hum.
Dalam kesempatan tersebut, guru besar bidang sastra ini menceritakan pengalaman singkatnya saat beliau berada di daerah perbatasan Palestina beberapa waktu lalu.
“Setiap jengkal itu diperiksa oleh para tentara dan polisi. untungnya saat itu kami menggunakan mobil diplomatik,” ungkapnya.
Prof Sangidu mengungkap bahwa suasana yang dialaminya saat di perbatasan Mesir-Palestina seolah sesuai dengan gambaran novel ‘Rajulun fi Asy-Syams‘ karya Ghassan Kanafani.
“Yang ditulis di karya sastra tersebut ternyata terbukti,” lanjutnya. Meski para pengarang memproduksi karya dengan menyisipkan imajinasi mereka.
Akan tetapi, mereka tidak melupakan unsur faktanya sehingga karya sastra yang diproduksi tersebut sesuai dengan peristiwa yang terjadi sekarang, ungkapnya.
Dengan demikian, dari hasil diskusi ilmiah tersebut dapat dipahami bahwa karya sastra dapat dijadikan sebagai media dan jendela untuk melihat berbagai isu sosial tentang suatu negara.
Di saat bersamaan, sastrawan di sini tugasnya adalah mengingatkan masyarakat dan menyuarakan suara orang-orang yang tidak mampu bersuara.
Itulah mengapa tulisan dan lisan indah dari sastrawan Arab dapat menjadi bagian dari data fenomena sosial budaya yang bisa dilihat oleh para pecinta sastra dan peneliti.
Penting untuk diketahui, Webinar ‘Bincang Isu Timur Tengah’ yang difasilitasi penuh oleh Magister Kajian Budaya Timur Tengah UGM ini digelar untuk maksud tertentu.
Yaitu, IMABTA UGM dan PPIDK Timtengka mengajak para pemerhati gejolak Timur Tengah agar tidak melupakan realitas sosial yang tersembunyi di balik makna kalimat indah sastrawi.
Menurutnya, Sastra Arab Kontemporer merupakan cerminan dari realitas sosial dan politik masyarakat Arab.
Sementara sastrawan merupakan tulisan dan lisan indah mereka sebagai medium untuk menyampaikan kisah pribadi hingga upaya mengobati rasa traumatis akibat adanya krisis identitas dan rasa keterasingan.
Peserta yang hadir dalam rangkaian kegiatan kedua ‘Pekan Budaya Timur Tengah’ ini sebanyak 55 partisipan.
Rerata para peserta berasal dari kalangan umum, baik dari kalangan pelajar atau mahasiswa maupun dari alumni beserta para peminat Sastra Arab.
Para peserta yang mengikuti kegiatan ‘Bincang Isu Timur Tengah’ pun ada yang berdomisili di Indonesia maupun di luar negeri, tepatnya di Kawasan Timur Tengah.
Di samping itu, Sekretaris Departemen Antarbudaya FIB UGM Dr. Mahmudah, M. Hum turut hadir menemani bincang hangat Timur Tengah ini.
Selain sambutan yang diberikan oleh Prof. Dr. Sangidu, M. Hum, Wakil Ketua IMABTA UGM Farhan Azis Wildani juga turut menyampaikan rangkaian kata singkat padat dan jelasnya.
Dengan adanya gelaran ini, diharapkan para pemerhati Timur Tengah, terutama dari kalangan akademisi, semakin banyak yang mulai merefleksikan kondisi sosial-politik terkini di dunia Arab melalui karya sastra Arab kontemporer.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi