

inNalar.com – Sepak bola modern yang kita kenal sekarang adalah bagian dari sejarah panjang olah raga si kulit bundar. Merentang dari zaman ke zaman, kelahiran sepak bola di dunia sendiri tidak terjadi secara tiba-tiba.
Butuh waktu yang sangat panjang bagi sepak bola, untuk kemudian bertranformasi hingga menjadi olahraga yang sangat populer seperti di era modern sekarang.
Sepak bola yang dikenal sekarang, dengan berbagai macam format permainan yang lebih kompleks, memang berawal dari tanah Britania, Inggris.
Baca Juga: Jarang Diketahui, Ternyata Dorce Gamalama Pernah Mendapat Gelar Kehormatan dari Keraton Solo
Hagemoni sepak bola di Inggris kemudian mempengaruhi wilayah lainnya di eropa, terutama negara-negara seperti Inggris yang punya wilayah jajahan di luar eropa.
Dari negara-negara kolonial ini, sepak bola kemudian menjamur tersebar luas ke berbagai wilayah jajahan di luar eropa. Termasuk ke wilayah yang sekarang disebut sebagai Indonesia.
Belanda, negara yang mengklaim wilayah Hindia Belanda sebagai tanah jajahannya, juga punya andil terhadap modernisasi olah raga si kulit bundar di Nusantara.
Baca Juga: Ustadz Abdul Somad Tengah Berbahagia, Fatimah Az Zahra Melahirkan Putra Pertama UAS
Jauh sebelum kedatangan Belanda di Nusantara, sepak bola ternyata sudah dikenal di negeri katulistiwa. Tentunya, sepak bola yang dimainkan oleh nenek moyang orang Indonesia sangat berbeda dengan sepak bola modern yang dikenal sekarang. Dalam kebudayaan melayu, sepak bola kuno disebut sebagai sepak raga.
Robert Crego, dalam buku Sports and Games of the 18th and 19th Centuries (hal 29-31), menuliskan, bahwa Marco Polo pernah mengklaim sebagai Orang pertama yang memperkenalkan Sepak Raga di Asia Tenggara.
Marco Polo mengklaim bahwa permainan ini dibawanya dari wilayah China ke Asia Tenggara.
Baca Juga: J-HOPE BTS Ulang Tahun, Dapat Kado Sikat Toilet Berlapis Emas Mewah Senilai Rp4 Juta
Crego menyebut bahwa biasanya sepak raga dipertandingkan antara satu desa melawan desa lainnya. Merujuk kepada orang-orang Filipina yang bermain sepak raga pada masa pendudukan Spanyol, pertandingan berlangsung dengan menghitung jumlah sepakan yang berhasil dilakukan.
Sepak raga menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan populer di di Asia Tenggara waktu itu.
Bahkan dalam upacara-upacara perayaan rakyat di beberapa wilayah Asia Tenggara, juga menampilkan permainan sepak takraw, diantaranya seperti acara perkawinan, panen raya dan pesta-pesta lainnya.
Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa sekitar 2.500 tahun yang lalu di Cina, ada permainan serupa yang disebut Cuju, yang menurut Asosiasi Sepak Bola Internasional, merupakan genealogi tertua sepak bola sebagai olahraga.
Cu punya arti menendang dan ju adalah sejenis bola kulit yang diisi dengan bulu. Cuju kemudian menjadi populer selama periode perang antar kerajaan kuno di Cina, sekitar 476-221 sebelum masehi.
Saat itu, cuju digunakan untuk melatih prajurit agar menjadi lebih tangguh, karena sifat olahraga ini yang cukup menguras energi.
Baca Juga: Kata Fahri Hamzah soal Direksi BUMN Sering Gelar Rapat dengan DPR RI: Lebih Banyak Mudaratnya
Sedangkan Menurut Anthony Reid, di buku Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I: Tanah di Bawah Angin, khususnya pada bab Pesta Keramaian dan Dunia Hiburan, dituliskan bahwa Permainan ini dimainkan di Birma (Myanmar), Siam (Thailand), Vietnam Selatan, Filipina, dan wilayah Nusantara (Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei).
Di wilayah-wilayah tersebut, Sepak Raga dimainkan dengan cara yang hampir mirip, yaitu beberapa orang membentuk formasi melingkar, lalu memainkan bola satu sama lain.
Ini agar bola tetap melayang di udara dengan cara menyepaknya dengan kaki, lutut atau paha. Bola terbuat dari Rotan Laut yang mirip Keranjang kecil berbentuk bulat.
Baca Juga: Terlahir Sebagai Laki-laki, Ini Alasan Dorce Gamalama Mengubah Dirinya Menjadi Perempuan
Kemudian, hingga awal abad 20, mulailah diperkenalkan net yang memisahkan dua area untuk masing-masing regu dalam Permainan ini. Sepak Raga, dimainkan oleh sekelompok orang dalam posisi melingkar, satu sama lain menyepak sebuah benda (semacam bola) di udara.
Anthony Reid juga menuliskan, di masa itu Sepak Raga tidak untuk dipertandingkan. Sepak Raga ditujukan untuk memajukan ketangkasan dan untuk melatih Tubuh, mengembalikan kelenturan punggung serta tulang tungkai yang pegal karena duduk, membaca, menulis atau bahkan bermain (sejenis) catur.
Masih menurut Reid, kesenenangan masyarakat di Asia Tenggara akan permainan, salah satunya dimungkinkan karena iklim yang bersahabat, dan makanan yang cenderung lebih mudah didapatkan dibanding di belahan dunia lainnya.
Baca Juga: Pengabdi Setan 2 Garapan Sutradara Joko Anwar Siap Menggebrak Layar Lebar Indonesia Tahun Ini.
Mereka memiliki waktu senggang yang lebih banyak untuk dimanfaatkan dengan hiburan, saling bernyanyi, bermain dan menggelar berbagai pesta.
Di sekitar akhir abad 11, Sepak Raga punya sebutan tersendiri di beberapa wilayah di Asia Tenggara. Seperti di pulau Luzon, Filipina, Sepak Raga disebut Sipa. Di Birma (Myanmar), Sepak Raga disebut Chinfhon.
Sementara dalam bahasa Thai disebut Takraw. Takraw inilah yang kemudian menjadi nama resmi salah satu jenis Permainan Bola Kaki di era sekarang, yaitu Sepak Takraw. Takraw sendiri dalam bahasa Thai berarti “bola anyaman”.
Baca Juga: Jangan Lakukan! Ini 7 Penyebab Tidak Lolos Seleksi Kartu Prakerja Gelombang 23
Sementara dalam Kebudayaan Melayu, persamaan istilah untuk Takraw sebagai objek yang ditendang dan disepak disebut Raga. Meskipun secara format permainan sangat berbeda dengan Sepak Bola yang dikenal saat ini.
Dalam kebudayaan Minangkabau, olahraga kuno ini dikenal dengan sebutan Sepak Rago. Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa permainan ini berasal dari Padang Pariaman.
Dimainkan oleh 9 orang yang berdiri dalam lingkaran, para Pemain berpakaian Tradisional (Gunting Cino, tutup kepala, celana Jao) dengan lama permainan satu babak selama 30 menit, tanpa menggunakan alas kaki.
Baca Juga: Cara Cek Hasil Seleksi Kartu Prakerja Gelombang 23, Cek di Dashboard Akun di www.prakerja.go.id
Sedangkan dalam Kebudayaan masyarakat Bugis, sepak raga dikenal dengan nama Ma’raga atau A’raga. Beberapa sumber menyebutkan bahwa permainan ini berasal dari Melayu, namun ada juga yang menyebutkan dari Nias.
Pada awalnya Ma’raga hanya dimainkan oleh kalangan bangsawan, setelah kemudian berkembang ke kalangan masyarakat luas.
Ma’raga atau A’raga menggunakan bola yang disebut raga, seperti yang dipergunakan dalam permainan sepak takraw, namun lebih tebal karena rotannya dianyam tiga lapis.
Baca Juga: Kartu Prakerja Gelombang 23 Resmi Dibuka! Begini Syarat dan Cara Daftarnya
Jumlah pemain biasanya terdiri dari 5 – 15 orang, dengan berpakaian adat Passapu atau destar.
Passapu yang digunakan adalah jenis Passapu Patonro yaitu destar yang berdiri tegak. Permainan Ma’raga sendiri terkadang diiringi dengan tetabuhan gendang sebagai penyemangat.
Adapun Kitab yang berjudul Sejarah Melayu (versi asli berjudul Sulalatus Salatin) yang ditulis pada 1612, telah melaporkan keberadaan permainan Sepak Raga di masa pemerintahan Sultan Alauddin, sekitar abad 13 (1477-1488).
Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat Jelaskan Syarat Puasa Ramadhan dan Golongan yang Terbebas dari Kewajiban Berpuasa
Kitab tersebut menuliskan pujian untuk seorang bangsawan dari Maluku yang mempertontonkan kebolehannya bermain Sepak Raga saat mengunjungi Malaka.
Sepak Raga setidaknya menjadi bukti bahwa Bangsa Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sudah punya Bekal pengetahuan terhadap Olah Raga Permainan Bola Kaki, sebelum akhirnya Bangsa Eropa memperkenalkan Olah Raga Sepak Bola.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi