Hikayat Sepak Bola Indonesia Bagian 3: Soeratin dan Periode Kelahiran PSSI

inNalar.com – Diskriminasi ada di berbagai sektor kehidupan masyarakat pribumi di Hindia Belanda, setidaknya sebelum Indonesia merdeka. Diskriminasi hadir termasuk diantaranya adalah di sepak bola. Ini merupakan sebuah ironi, karena pada awal kehadirannya di dunia, sepak bola dimaksudkan sebagai olah raga kolektif yang tak mengenal latar belakang dan kelas sosial.

Pembagian kelas dalam sepak bola pun berlaku. Beberapa klub yang didirikan oleh etnis tertentu hanya boleh diisi oleh pemain yang berasal dari etnisnya. Hal ini berdampak pada munculnya klub sepak bola bangsa Eropa, klub sepak bola bangsa keturunan China, dan klub sepak bola bangsa pribumi.

Karena setiap etnis melarang pertandingan antar etnis, maka muncullah klub, federasi, dan versi kompetisi sepak bola yang berbeda untuk setiap etnis tersebut. Akan tetapi pada awalnya, justru hanya kompetisi buatan bangsa Eropa lah yang mengizinkan pertandingan antar etnis, ataupun mengizinkan klub mereka diisi oleh etnis selain Eropa.

Baca Juga: Tottenham Hotspur Tumbang di Kandang Burnley dalam Laga Tunda Pekan ke-13 Premier League

Kompetisi antar federasi (Bond) versi pribumi, pertama kali berlangsung pada 1930, setelah berdirinya Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) di Yogyakarta. Kompetisi pribumi ini hanya boleh diikuti oleh etnis pribumi, sama halnya dengan kompetisi etnis keturunan China.

Kompetisi inilah yang menjadi cikal bakal kompetisi Perserikatan di era Federasi PSSI dan setelah kemerdekaan Indonesia, hingga selanjutnya melahirkan kompetisi semi-profesional dan kompetisi sepak bola profesional Indonesia seperti di era sekarang. Adapun bond pribumi kebanyakan mengambil nama Bond dari nama wilayahnya, seperti Cahaya Kwitang, Sinar Kernolong, atau Si Sawo Mateng.

PSSI berdiri pada 19 April 1930 dengan nama awal Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia, sebelum akhirnya berganti nama menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Ketua umum pertamanya adalah Ir. Soeratin Sosrosoegondo. PSSI bergabung dengan induk federasi sepak bola dunia, FIFA, pada 1952, dan Federasi Sepak Bola Asia, AFC, pada 1954, setelah bubarnya NIVU yang sudah berganti nama menjadi ISNIS, dan juga setelah diakuinya Kemerdekaan Indonesia oleh PBB.

Baca Juga: MU Tahan Imbang Atletico Madrid di Leg Pertama Babak 16 Liga Champions Eropa, Simak Laporan Selengkapnya

Soeratin Sosrosoegondo, adalah seorang Insinyur Teknik Sipil. Soeratin menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman, pada 1927. Pada 1928, ketika Soeratin kembali ke tanah air, ia bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda, Sizten en Lausada, yang berkantor pusat di Yogyakarta.

Di sana, Soeratin merupakan satu-satunya orang Indonesia yang duduk sejajar dengan Komisaris Perusahaan Konstruksi tersebut. Namun karena dorongan semangat Nasionalisme yang tinggi, dia kemudian memutuskan untuk mundur dari perusahaan tersebut.

Setelah berhenti dari Sizten en Lausada, Soeratin lebih banyak aktif di pergerakan. Sebagai seorang yang gemar bermain Sepak Bola, dia menyadari kepentingan pelaksanaan butir-butir keputusan yang telah disepakati bersama dalam pertemuan para pemuda Indonesia pada Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Soeratin melihat sepak bola sebagai wadah terbaik untuk menyemai Nasionalisme di kalangan pemuda sebagai sarana untuk menentang kuasa Kolonial Belanda.

Baca Juga: Menparekraf Wadahi Sineas Daerah untuk Berkarya Lewat Family Sunday Movie, Peluang Masih Terbuka Lebar

Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Soeratin mengadakan pertemuan dengan para tokoh sepak bola di Solo, Yogyakarta, dan Bandung. Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi secara diam-diam untuk menghindari sergapan Intelijen Polisi Belanda (PID). Ketika mengadakan pertemuan di hotel Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta, Soeri, ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta), dan juga pengurus lainnya, dimatangkanlah gagasan perlunya dibentuk sebuah Organisasi Sepak Bola Nasional.

Selanjutnya, pematangan gagasan tersebut dilakukan kembali di Bandung, Yogyakarta, dan Solo, yang dilakukan dengan beberapa Tokoh Pergerakan Nasional, seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A. Hamid, dan Soekarno. Sementara itu, untuk kota-kota lainnya, pematangan dilakukan dengan cara kontak pribadi atau melalui kurir, seperti dengan Soediro yang menjadi Ketua Asosiasi Muda Magelang.

Kemudian pada 19 April 1930, berkumpullah wakil dari Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ), BIVB (Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond), Persatuan Sepak Raga Mataram (PSM Yogyakarta), Vorstenlandsche Voetbal Bond Solo (VVB), Madioensche Voetbal Bond (VMB), Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM), dan Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB).

Baca Juga: Budaya Rijsttafel, Alasan Mengapa Orang Indonesia Suka Menghidangkan Nasi, Sayur, Lauk dan Es dalam Satu Meja

Dari pertemuan tersebut, diambillah keputusan untuk mendirikan PSSI, singkatan dari Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia. Nama PSSI lalu diubah dalam kongres PSSI di Solo pada 1930 menjadi Persatuan sepak bola Seluruh Indonesia sekaligus menetapkan Ir. Soeratin sebagai Ketua Umumnya.

Ketujuh Bond pendiri PSSI ini kemudian bertransformasi menjadi klub-klub Perserikatan setelah berdirinya PSSI. VIJ menjadi Persija Jakarta, BIVB menjadi Persib Bandung, PSM menjadi PSIM Yogyakarta, VVB menjadi Persis Solo, VMB menjadi PSM Madiun, IVBM menjadi PPSM Magelang, dan SIVB menjadi Persebaya Surabaya. Dan ketujuh klub tersebut masih eksis hingga kini.

Namun, dari ketujuh Klub pendiri PSSI tersebut, ternyata tidak satupun yang menyandang gelar sebagai klub Perserikatan tertua di Indonesia. Karena klub Perserikatan tertua, yang bahkan hingga kini masih eksis di Kompetisi Liga 1 Indonesia, adalah PSM Makasar. Klub dari bekas Kota Ujung Pandang itu didirikan pada 2 November 1915, dengan nama awal Makassar Voetbal Bond (MVB). Sedangkan 7 Klub pendiri PSSI semuanya didirikan di era 1920-an.

Baca Juga: Jadwal Tayang Film Terbaru Hanung Bramantyo Satria Dewa Gatotkaca Diundur, Ternyata Ini Penyebabnya

Sebenarnya, selain tujuh Klub pendiri PSSI tersebut, sangat banyak klub dari berbagai wilayah di penjuru Nusantara yang ingin menghadiri pembentukan PSSI di Yogyakarta. Namun banyak klub terkendala masalah Transportasi dan Finansial hingga akhirnya kesulitan untuk hadir. Akhirnya, hanya tujuh klub yang bisa hadir dalam pertemuan kala itu. Setidaknya, itulah gambaran yang dituliskan di buku “Sepak Bola Perjuangan (PSSI 1930-1940): Melawan Penjajahan dari Lapangan Hijau”.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]