Hikayat Sepak Bola Indonesia ‘Bagian 2’, Era Kolonial, Pintu Gerbang Sepak Bola Modern

inNalar.com – Hegemoni Negara-negara Eropa yang saat itu sedang “keranjingan” membentuk klub-klub Sepak Bola, terasa hingga ke wilayah Negara jajahannya seperti Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Saat itu, Belanda sebagai negara penjajah, punya peran dalam membawa “virus” sepak bola ke Negeri rempah ini.

Lahirnya perkumpulan dan klub sepak bola di Hindia Belanda sendiri, dilatar belakangi oleh mulai banyaknya klub-klub sepak bola yang lahir di Eropa sekitar Abad 18.

Pada 16 November 1887, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mendirikan sebuah klub olah raga di Kota Medan, dengan nama Gymnastiek Vereeniging.

Baca Juga: Hikayat Sepak Bola Indonesia: ‘Nasab’ Olahraga si Kulit Bundar di Nusantara

Di dalam Gymnastiek Vereeniging  sendiri, selain tim sepak bola juga ada tim kriket. Waktu itu, kriket lebih terkenal dari sepak bola.

Selain tim sepak bola dan tim kriket, Gymnastiek Vereeniging sendiri punya tim tenis, tim senam, dan tim atletik. tim sepak bola di Klub Gymnastiek Vereeniging inilah yang tercatat dalam sejarah sebagai klub sepak bola pertama di Hindia Belanda.

Berdirinya Gmynastiek Vereeniging disusul dengan lahirnya klub sepak bola lain asal Medan dengan nama Oostkust Sport Club Sumatra (OSCS) pada 1 Juni 1899, perkumpulan ini biasa disebut Sport Club atau SOK.

Kemudian, pada 1928 berdiri pula klub olah raga lain di Sumatera, yaitu Sport Vereniging Minang (SVM), di Kota Padang.

Di Jawa, klub sepak bola pertama yang tercatat dalam sejarah adalah ketika Bataviasche Cricket-Football Club “Rood-Wit” didirikan pada 28 September 1893 di Batavia (Sekarang Jakarta).

Rood-Wit  adalah klub olah raga yang di dalamnya juga terdiri dari tim sepak bola dan tim kriket. Rood-Wit kemudian secara resmi diakui statusnya pada bulan Mei 1894.

Baca Juga: Kunci Jawaban Buku Tematik Tema 7 Kelas 5 SD atau MI Halaman 184 dan 185 Subtema 3 Pembelajaran 4

Dan di tahun yang sama, John Edgar dan Kawan-kawan mendirikan Sebuah klub  dengan nama Victoria, di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya. Berikutnya ada Sparta, klub yang juga dari Kota Surabaya ini berdiri pada Tahun 1895, setahun setelah kelahiran Victoria.

Pada awal kehadirannya, sepak bola memang belum terlalu banyak diminati oleh kebanyakan masyarakat Hindia Belanda.

Selain karena bukan menjadi olah raga yang populer, sepak bola pada awalnya hanya dimainkan oleh kaum kasta teratas dalam struktur sosial masyarakat di Hindia Belanda.

Hal ini didasari oleh sikap diskriminatif Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sendiri terhadap Penduduk Pribumi.

Tercermin dalam Undang-Undang Article 163 Indische Staatsregeling, yang membagi stratifikasi sosial dalam masyarakat menjadi tiga golongan yaitu Orang Belanda/Eropa, Orang Timur Asing (Tionghoa, Arab, India, dsb), dan terakhir Pribumi.

Baca Juga: Jadwal Sholat Wilayah Kota Padang dan Sekitarnya, Sabtu 19 Februari 2022 atau 18 Rajab 1443 Hijriah

Pada akhirnya, beberapa klub dan bond (perserikatan) yang didirikan oleh etnis tertentu hanya boleh diisi oleh pemain yang berasal dari etnisnya. Hal ini berdampak pada munculnya klub dan bond Eropa, keturunan China, dan juga Pribumi.

Pada 20 April 1919, empat Bond (Perserikatan) yang didominasi oleh orang Belanda dan Eropa, yaitu Batavia, Bandung, Semarang, dan Surabaya, membentuk Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB). Sebagai induk organisasi sepak bola pertama di Hindia Belanda, Statuta NIVB diakui pada 20 Oktober 1919.

Selanjutnya, NIVB diangkat sebagai anggota FIFA pada 15 April 1924, dan untuk kemudian disahkan sebagai anggota resmi pada 24 Mei 1924.

Dalam perjalanannya, jumlah Bond (Perserikatan) yang bergabung kedalam NIVB meningkat setiap tahunnya. Di kemudian hari, konflik dan kebangkrutan yang terjadi di dalam tubuh NIVB, memunculkan pergolakan diantara para anggotanya.

Pada akhir Juli 1935, NIVB resmi dibubarkan dan digantikan dengan NIVU (Nederlandsch Indische Voetbal Unie). Teddy Kessler dan Leo Lopuisan, diangkat menjadi ketua pertama dalam Induk Organisasi Sepak Bola Hindia Belanda yang ke dua ini.  NIVU kemudian secara resmi bergabung dan diakui sebagai anggota FIFA pada bulan Mei 1936.

Tercatat, sejak 1914 hingga 1950, Turnamen antar Perserikatan (Bond) resmi sudah banyak digelar. Ada 29 kali gelaran turnamen antar perserikatan, baik ketika sebelum era NIVB hingga di era NIVU.

Baca Juga: Ahmad Zulkifli Lubis, Pengisi Suara SpongeBob Versi Indonesia Meninggal Dunia di Usia 50 Tahun

Dari 29 kali Gelaran Turnamen antar Perserikatan ini, Voetbalbond Batavia en Omstreken (VBO) adalah peraih Gelar Juara terbanyak yaitu 12 kali.

Di era NIVU, Hindia Belanda bahkan pernah menjadi kontestan Piala Dunia di Prancis pada 1938. Ini sekaligus menjadikan Hindia Belanda (Indonesia) sebagai kontestan Piala Dunia pertama dari Asia.

Saat itu ada 3 induk Federasi Sepak Bola di Hindia Belanda, yaitu NIVU, PSSI (Federasi Sepak Bola Pribumi) dan HNVB (Federasi Sepak Bola etnis China). Yang diakui oleh FIFA saat itu hanyalah NIVU.

Kemudian sejak kedatangan tentara Jepang dari 1942-1945, praktis NIVU pun bubar. Namun, setelah Jepang menyerah, pada 1945-1950 NIVU kembali lagi dengan nama ISNIS.

Setelah tahun 1950, dengan diakuinya Kemerdekan Indonesia oleh PBB, maka FIFA pada tahun 1952 mengakui PSSI sebagai induk Organisasi Sepak Bola di Indonesia.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]