

inNalar.com – KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha pernah mewanti-wanti untuk menghindari sikap ini, karena bisa menjauhkan dari rahmat Allah SWT.
Perbuatan sepele itu kata Gus Baha yaitu sering merasa bahwa dirinya orang paling bersalah.
Sehingga ia justru akan selalu pasrah dan malas untuk berbuat kebaikan. Lebih lengkapnya, Gus Baha bercerita kisah riwayat dari Abu Hasan Asy Syadzili.
Dalam kisah tersebut Syekh Abu Hasan Asy Syadizili menuturkan kelihaian setan dalam menggoda manusia.
Baca Juga: Intip Profil Lionel Messi dengan Karir Sepak Bola dan Raihan Gelar Individunya yang Bikin Melongo
Bahkan, orang yang sholeh saja masih dipermainkan oleh setan dengan membuat orang tersebut selalu mengingat kesalahan.
“Syekh Abu Hasan Asy Syadzili pernah menceritakan tentang pinternya setan dalam membuat orang sholeh dipermalukan untuk selalu ingat dosa saja,” kata Gus Baha.
Oleah sebabnya, orang yang selalu mengingat dosa akan dibuat merasa senantiasa bersalah.
Dan akhirnya hal tersebut membuatnya malah jauh dari rahmat Allah SWT, dalam artian sudah putus asa.
Ia merasa menjadi orang yang paling berdosa dan lupa bahwa Allah adalah maha pengampun lagi penyayang pemberi rahmat bagi makhluknya.
Kata murid kesayangan Mbah Moen itu orang yang selalu ingat dosa akan malas untuk berkerja, berjuang, bahkan berdakwah.
“Maka dirinya akan menganggap orang paling bersalah atau merasa tidak bersih di setiap perbuatannya,” lanjutnya dikutip dari Instagram @republiksantrinusantara.
Oleh sebab itu kata Gus Baha, kita harus melawan pikiran tersebut dengan penuh keyakinan Allah SWT adalah dzat yang maha pengampun.
Buang stigma itu dengan tetap melakukan hal baik agar peran yang ada tidak terabaikan.
kalau semisal ingat dosa terus maka menjadi mubaliq atau yang lainnya tidak berani melakukan hal baik.
Alhasil takut memberikan nasihat kebenaran serta tidak berani dan menganggap dirinya tidak benar.
Hal ini akan menjadikan dirinya jauh dari rahmat Allah SWT. Oleh karenanya, Gus Baha menghimbau jangan suka berbicara dosa terus menerus.
Hal tersebut merupakan sikap yang akan menghilangkan atau mengabaikan rahmat dan nikmat Allah SWT.***