

inNalar.com – Nusa Tenggara Timur atau NTT disebut menjadi daerah dengan potensi penghasil garam terbesar di Indonesia.
Salah satunya adalah daerah Kupang yang memiliki peluang produksi garam yang sempat disebut kuantitasnya hampir setara dengan milik Australia.
Dengan potensi 1.192 pulau yang tersebar di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini, tentu Indonesia menaruh harapan besar untuk menggenjot produksi komoditi beryodium ini.
Sejauh ini, PT Timor Livestock Lestari adalah salah satu perusahaan yang sukses melakukan produksi komoditi beryodium hingga memiliki kadar kualitas yang mendekati sempurna.
Lebih lanjut, dari target kualitas NaCl 97 persen, pemilik tambak garam terbesar di wilayahnya ini berhasil menghasilkan kualitasnya hingga 96 persen.
Sebagai informasi, perusahaan yang memiliki spesialisasi di produk beryodium ini diketahui memiliki area lahan tambak garam seluas 600 hektare.
Usai mengarungi pahit manisnya produksi komoditi paling dibutuhkan skala nasional ini selama 4 tahun, Direktur PT Timor Livestock Lestari, Ken Hendrawanto mengungkap bahwa kendala utama proses produksi sebenarnya ada di faktor alam.
Tinggi rendahnya kualitas produksi komoditinya cukup terpengaruh dengan fenomena alam seperti la nina.
Namun demikian, Gubernur Provinsi NTT mengungkapkan keoptimisannya terkait potensi produk komoditi ini untuk menunjang kebutuhan nasional dari segi alam dan geografisnya di wilayahnya.
Baca Juga: Mudah! Berikut Cara Ajukan KUR BRI secara Online, Pinjamannya Bisa sampai Rp500 Juta?
Menurutnya, Nusa Tenggara Timur cukup diuntungkan dengan adanya kesediaan kualitas air laut yang memungkinkan luas tambak garamnya bisa mencapai 15.000 hektare.
Artinya, ada sekitar 60 persen dari luas provinsi yang bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan produksi tambak garam ini.
Meski begitu, selain faktor alam yang sangat erat kaitannya dengan iklim, demografi hingga tekstur relief tanahnya pun ikut berpengaruh terhadap kualitas produksi komoditi ini.
Jika sejauh ini kemampuan produksi perusahaan PT Timor Livestock mampu menghasilkan 5.000 ton garam, maka diharapkan ke depannya dapat berlipat ganda hingga 30 ribu ton.
Hal yang cukup menarik dari perusahaan garam terbesar di NTT ini adalah pihaknya ikut merangkul tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
Dengan demikian, kesejahteraan ekonomi tidak hanya berpengaruh pada skala besar, namun masyarakat di lingkup kecilnya pun ikut merasakan dampak ekonomi nasional.
Tentu hal ini dapat menjadi potensi besar tersendiri seiring cita-cita Provinsi NTT di tahun 2030 ke depan yang diharapkan mampu menjadi daerah penghasil produk garam berkualitas dan kuantitas yang berkali lipat ke depannya.***