

inNalar.com – Jawa Barat kini ketambahan satu unit lagi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang berlokasi di sekitar kawasan industri daerah Karawang.
Lokasi pembangkit listrik berbasis panel surya ini sengaja diletakkan posisinya berdekatan dengan pabrik farmasi yang dioperasikan oleh B Braun Indonesia.
Pasalnya keberadaan pembangkit listrik tersebut memang akan difungsikan sebagai pemasok kebutuhan energi pabrik tersebut.
Sebelum itu, mari mengenal lebih dekat mengenai siapa perusahaan di balik pengendali pabrik farmasi yang didukung oleh infrastruktur energi hijau ini.
Jadi B Braun Indonesia ini adalah perusahaan multinasional yang berafiliasi pada perusahaan induk B Braun Group yang basis kantornya berada di Melsungen, Jerman.
Diketahui melalui catatan Annual Report 2022, serapan tenaga kerja perusahaan farmasi cabang Indonesia mencapai 480 pegawai.
Awal ekspansikan industri kesehatan di Indonesia, pabrik farmasi pertama yang didirikan oleh B Braun Indonesia ini dibangun pada Juli 2017.
Setahun kemudian pabrik yang berada di Karawang ini mulai produksi secara komersial.
Seiring dengan ambisi perusahaan yang mengejar target untuk menurunkan 50 persen emisi secara global.
Perusahaan asal Jerman ini akhirnya meresmikan PLTS di Karawang pada Kamis, 18 Januari 2024.
Pembangunan pembangkit listrik berbasis tenaga surya ini menjadi langkah strategis B Braun Indonesia sekaligus upaya memasok energi listrik aset pabriknya.
Adapun kapasitas yang mampu dimaksimalkan dari PLTS tersebut mencapai 1.673 Giga Watt hour (GWh).
Adapun untuk daya listrik pembangkit listrik saat ini kapasitasnya sebesar 1,2 Mega Watt peak (MWp).
Sedikit informasi, gerak lihai transformasi energi hijau ini tidak hanya diberlakukan di cabang pabrik farmasi yang ada Indonesia saja.
B Braun Group juga mengandalkan energi geothermal Pabrik produksi Disinfektan N.I.C.O di Swiss.
Selain mengandalkan PLTS sebagai kebutuhan 20 – 30 persen listrik pabriknya, pembangunan pabriknya sendiri diklaim gunakan konsep ramah lingkungan.
Dari segi bangunan pabriknya, pihak perusahaan memaksimalkan cahaya alami dan teknologi Internet of Things (IoT) saat memproduksi cairan dasar infus.
Tidak lupa pula di sekitar tempat produksinya di Karawang ini, ditajak juga beberapa pohon yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas udara sekaligus mengurangi dampak polusinya.
Baca Juga: Jumlah Laba Bersih Meroket, PT Samator Indo Gas Tbk Catatkan Penurunan Besaran Utang
Presiden Direktur B. Braun Indonesia, Rainer Ruppel mengungkap bahwa pihak perusahaan memiliki target pengurangan emisi karbon setidaknya mencapai 25 persen.
Apabila dihitung kesetaraan bobot emisinya, maka tingkat reduksi zat berbahayanya setara 346 ton emisi karbon per tahunnya. ***