

inNalar.com – Saat ini daerah dengan kekayaan sumber daya alam batu bara terbesar di Indonesia masih berada di tangan Pulau Laut Kalimantan Selatan.
Uniknya tidak hanya sekarang, namun jauh di zaman dahulu bahkan sejak abad ke-20 awal batu bara di Pulau Laut sudah dikeruk oleh kolonial dan diambil sebagai bahan baku mesin dan kendaraan uap.
Pada tahun 1897, Hindia Belanda mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai batu bara di Pulau Laut, Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh August Janseen dan Th. Gillisen.
Baca Juga: Telan Dana APBN Hingga Rp 569 Miliar, Jembatan di Pontianak akan Rampung pada Akhir 2023?
Kemudian dibawah pimpunan August pula didirikanlah perusahaan batu bara yang dinamai ‘Poeloe Laoet’ atau Pulau Laut pada tahun 1903 di wilayah Sebelimbingan.
Dilansir inNalar.com dari Kindai Etam: Jurnal Penelitian Arkeologi dengan judul Survei Arkeologi di Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan yang ditulis oleh Nia Marniati E.F. tahun 2018 menyatakan bahwa Perusahaan tambang Pulau Laut menjadi tambang swasta terbesar di masa Hindia Belanda saat itu.
Produksi dari pernah dicapai perusahaan Hindia Belanda ini juga pernah mencapai 165.000 ton atau setara dengan 27% saham dari produksi batu bara milik Hindia Belanda.
Di bawah administrator bernama J.Loonsdorfer, modal besar yang digelontorkan untuk tambang ini semakin besar yang semula hanya 180.000 gulden naik menjadi dua juta gulden.
Selain itu, tambang Pulau Laut juga menjadi salah satu tambang terbesar yang dimiliki Hindia Belanda selain perusahaan lainnya seperti Oost Borneo Maatschaappij (OBM) dan Parapattan Baru di wilayah Sambaliung.
Tak hanya kualitas batu bara yang membentang di pulau laut, namun juga karena lokasi yang tepat dan strategis menjadi alasan yang perusahaan tersebut semakin menaiki puncak kesuksesannya.
Terdapat pula pelabuhan di daerah Stagen yang pada saat itu digunakan sebagai pelayaran utama dan memberikan kemudahan bagi kapal-kapal yang melewati selat Makassar.
Pelabuhan tersebut tidak terlalu jauh dari lokasi pertambangan batu bara yang ada di Sebelimbingan dan sekaligus menjadi tempat pengapalan batubara yang berada di sekitar Selat Makassar.
Jauh sebelum perusahaan tambang ‘Poeloe Laoet’ didirikan, sebenarnya terdapat kerajaan yang memang sudah mengeksplor pertambangan batu bara di Pulau Laut.
Kerajaan tersebut ialah Kerajaan Kusan dan memproduksi batu bara untuk kapal-kapal uap yang tengah berlayar ke darah pedalaman di tahun 1881 hingga 1885.
Kerajaan ini membangun gudang-gudang batu bara yang lokasinya berdekatan dengan tepian sungai dan pantai.
Sehingga sebelum perusahaan Poloe Laoet beroperasi, kerajaan lain yang memang menguasai area tersebut sudah mengambil peran dalam industri batu bara terutama memenuhi bahan bakar kapal uap Belanda.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi