

inNalar.com – Di Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara, ada keunikan tersendiri dalam mengakses bahan bakar untuk masyarakat pesisir.
Bagi warga Pulau Maya yang tersebar di enam desa dengan luas mencapai 764,60 km², SPBU terapung menjadi solusi utama untuk mendapatkan BBM dengan harga yang terjangkau.
SPBU yang unik ini mengapung di atas kapal di dermaga Tanjung Satai dan menyediakan bahan bakar bagi lebih dari 2.000 nelayan dan 500 kapal motor di wilayah tersebut.
Baca Juga: Sudah Tahu? Pertamina Punya SPBU Terindah di Dunia: Lokasinya Terpencil di Atas Teluk Cantik NTT
Terutama bagi mereka yang harus mencari pundi-pundi rupiah di atas laut, jelas membutuhkan bahan bakar agar kapal dapat berlayar.
Sekilas tentang Pulau Maya
Dilansir inNalar.com dari dokumen resmi Pemerintah Provinsi Kalimatan Barat, Pulau Maya merupakan bagian dari Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat.
Pulau tersebut meliputi wilayah seluas 764,60 km² atau sekitar 16,74% dari total luas Kabupaten Kayong Utara. dengan penduduk mayoritas bekerja sebagai nelayan.
Dengan kondisi geografis yang dikelilingi perairan, akses terhadap kebutuhan harian, termasuk BBM, bisa menjadi tantangan tersendiri di Pulau Maya.
Sebelumnya, harga BBM di Pulau Maya bisa melambung tinggi karena bergantung pada pengecer lokal yang menjual premium dan solar dengan harga jauh di atas standar.
SPBU Terapung Jadi Solusi BBM Bersubsidi
Kehadiran SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) terapung ini menjadi angin segar bagi masyarakat setempat.
Dalam video yang dirilis oleh BUMN Info di YouTube, disebutkan bahwa Pertamina membangun SPBU BBM satu harga di Pulau Maya khusus untuk mendukung nelayan setempat.
SPBU ini berupa kapal ponton yang mampu menampung berbagai jenis BBM dan dilengkapi dengan dua nozzle serta selang panjang agar BBM dapat langsung diisi ke kapal nelayan maupun kendaraan di daratan.
Diresmikan sebagai SPBU Kompak pertama di Kalimantan Barat, lokasi ini adalah salah satu dari target 83 titik pembangunan lembaga penyalur BBM satu harga oleh pemerintah pada 2020.
Dengan harga premium pada masanya sekitar Rp 6.450 per liter dan solar Rp 5.150 per liter, masyarakat dapat menikmati harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan harga dari pengecer.
SPBU Terapung Bentuk Keadilan Sosial dalam Akses BBM
Akses menuju Pulau Maya memang cukup menantang. Warga dari Ketapang, misalnya, harus menempuh perjalanan darat sekitar 1,5 jam, diikuti dengan perjalanan laut menggunakan speedboat selama satu jam.
Lokasi ini bahkan masuk dalam wilayah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (3T), yang menjadi prioritas dalam program BBM satu harga.
Kepala BPH Migas, M Fanshurullah Asa, menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan BBM di Pulau Maya, diperlukan sekitar 60 hingga 100 kiloliter (KL) solar setiap bulannya.
Menurut Kepala BPH Migas, program BBM satu harga di wilayah 3T ini merupakan amanah konstitusi untuk memastikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Diharapkan SPBU terapung di Pulau Maya tidak hanya menjadi solusi bagi para nelayan, tetapi juga menjadi contoh inovasi distribusi BBM di daerah lain yang memiliki keterbatasan akses.
Dengan keunikan geografis dan tantangan infrastruktur di Pulau Maya, Kalimantan Barat, keberadaan SPBU terapung ini menjadi solusi penting yang sangat dihargai masyarakat setempat. ***(Gita Yulia)