

inNalar.com – Tahu Kuning merupakan makanan khas Kediri, Jawa Timur, dengan keunikan warna dan juga kepadatan yang berbeda dari tahu biasa.
Warna dari tahu ini dikatakan menjadi ciri khas Kediri karena pada masa lalu kota ini dipenuhi dengan bangunan berwarna kuning.
Sayangnya, keunikan Tahu Kuning dari Kediri rupanya tidak selaras dengan proses produksi makanan tersebut karena UMKM mengalami kesulitan.
Pasalnya, usaha Tahu Kuning di kota terkaya di Jawa Timur tersebut rupanya terancam bangkrut.
Dilansir inNalar.com dari berbagai sumber, ancaman bangkrut untuk usaha produksi Tahu Kuning diakibatkan oleh lonjakan harga kedelai.
Mahalnya bahan baku untuk membuat makanan khas Kediri tersebut menyebabkan beberapa pengrajin tahu mengalami kerugian.
Tidak sedikit juga di antara mereka gulung tikar, di mana di antaranya terdapat 15 dari 150 UMKM Kelud Mandiri tutup usaha.
Lonjakan tarif kedelai membuat pengrajin tahu harus pintar-pintar dalam memproduksi makanan khas Kediri ini.
Salah satu pedagang pernah menyatakan bahwa mereka hanya dapat menggunakan 300 kg kedelai di mana sebelumnya 600 kg untuk membuat tahu.
Hal ini juga berimbas kepada harga jual Tahu Kuning, belum lagi kenaikan tarif yang membuat para konsumen mengeluh.
Padahal, kenaikan harga jual diakibatkan oleh tingginya biaya untuk membeli bahan utama, namun penjual khawatir bila pelanggan malah kabur.
Beberapa pengrajin Tahu Kuning mencoba untuk tidak menaikkan harga ataupun mengurangi kualitas produksi mereka.
Dengan begitu, mereka bisa tetap menjual Tahu Kuning dengan cara mengurangi jumlah produksi saja.
Sayangnya, hal tersebut membuat para pedagang sadar bahwa mereka bisa terancam bangkrut.
Hal ini juga membuat para pedagang saling bersaing untuk mendapatkan pelanggan, sehingga tidak sedikit pengusaha yang tergeser hingga gulung tikar.
Besar harapan dari pengrajin Tahu Kuning agar pemerintah Kota Kediri dapat mengatasi kenaikan harga kedelai.
Bila hal tersebut berhasil, maka usaha Tahu Kuning khas Kediri masih dapat berlanjut dengan menguntungkan produsen dan juga konsumen.***