

inNalar.com – Kilang minyak di Riau ini merupakan sebuah pabrik atau industri yang bergerak mengelola minyak mentah.
Kemudian menjadi berbagai produk petroleum yang dapat langsung digunakan menjadi bahan baku berbagai industri petrokimia.
Kilang minyak merupakan industri yang menghubungkan produksi bahan kimia dan produk dari sumber daya alam.
Baca Juga: Pemerintah Usulkan UMP Kalimantan Timur 2025 Naik 4,07 Persen, Berapa Nominalnya?
Dalam alur pengolahannya, pabrik ini memiliki proses dan memiliki berbagai tahapan seperti distilasi, dekomposisi, pengelolahan dan formulasi.
Dalam mengubah minyak mentah menjadi produk yang bermanfaat, misalnya bensin, diesel, minyak tanah dan LPG.
Seperti kilang minyak satu ini yang berada di Riau. Pabrik pengilangan minyak ini telah bekerja sama dengan tiga perusahaan besar.
Yaitu, PT Pertamina (Persero), PT Nindya Karya (Persero) dan beberapa perusahaan Korea yang bekerja sama dalam proyek RDMP Unit Pengolahan II Dumai berada di Riau.
Bahlil Lahadalia selaku Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menjelaskan.
Bahwa kilang Dumai ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak dan bahan bakar minyak dalam negeri.
Bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor minyak dan bisa mengatasi defisit kesepakatan yang akan datang.
Proyek ini sangat penting, karena merupakan salah satu kilang minyak prioritas Pertamina.
BKKM mendukung terciptanya kemitraan strategis antara perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Proyek tersebut memiliki nilai sebesar Rp22 triliun yang memproduksi biodiesel di Indonesia.
Telah beroperasi sejak tahun 1971, telah memberikan pengaruh terhadap perkembangan dan kemajuan khususnya kota Dumai.
Bahan yang telah dihasilkan ini sudah didistribusikan ke berbagai manca negara dan pelosok tanah air Indonesia.
Menjadi salah satu kilang terbesar yang berada di Pulai Sumatera, memiliki dua lokasi yaitu Dumai dan Sungai Pakning.
Dikutip oleh inNalar dari Pertamina, Pengolahan II Dumai memiliki tujuan penting untuk sasaran strateginya.
Yaitu peningkatan revenue dan cost reduction, peningkatan kepuasan pelanggan serta citra positif bagi perusahaan.
Kapasitas produksi sebesar 170.000 barel per hari, mulai dari Bahan Bakar Minyak (BBM), Bahan Khusus (BBK) dan Non BBM.
Produk yang dihasilkan dapat dinikmati keberadaannya bagi masyarakat.
Untuk Bahan Bakar Minyak (BBM dan Bahan Bakar Khusus yang di produksi memiliki 6 jenis yaitu Aviation Turbine Fuel, minyak bakar, minyak diesel, minyak solar, dan minyak Tanah.
Sementara untuk Non BBM memiliki 3 jenis produksi, diantara nya meliputi Solvent, Green Coke, Liquid Petroleum Gas (LPG).
Selain itu, terdapat sasaran strategi utama hasil analisa SWOT dan GE 9 Cells, RU II yaitu peningkatan kehandalan kilang, pptimasi biaya produksi, peningkatan nilai tambah produk, Peningkatan kompetensi pekerja, dan peningkatan kepuasan pelanggan.***