Habis Rp19,8 Miliar, Jembatan Ikonik Padang Sumatera Barat Ini Terinspirasi dari Novel Klasik 1922, Namanya…

inNalar.com – Padang merupakan salah satu kota di Sumatera Barat yang tidak hanya dikenal masyarakat berkat kuliner mendunianya, tetapi juga keindahan infrastruktur legendaris berupa jembatan yang melintasi Sungai Batang Arau.

Jembatan yang berada di salah satu sudut Kota Padang ini menjadi salah satu infrastruktur paling ikonik di Sumatera Barat sejak diresmikannya pada tahun 2002.

Keunikan jembatan yang ada di Sumatera Barat ini tidak hanya soal tampilan konstruksinya yang indah dan kokoh saja, infrastruktur penghubung Kota Tua Padang ini juga mulai dibidik menjadi wisata sastra.

Baca Juga: Berhias Ornamen Budaya Lokal, Jembatan di Kota Kupang NTT Ini Memiliki Panjang Capai 337 Meter, Pernah Lewat?

Tidak heran jika nama jalan yang menggantung di atas Sungai Batang Arau ini akhirnya diambil dari sebuah judul karya sastra berupa novel klasik yang diproduksi pada tahun 1922.

Sumatera Barat dikenal dengan banyak kisah legenda fenomenalnya dan itulah mengapa nama jembatan pembelah Kota Padang ini diambil namanya dari judul novel karya Marah Rusli.

Judul novel klasik yang diambil menjadi sebuah nama infrastruktur legendaris ini adalah ‘Siti Nurbaya’. Lalu, mengapa nama infrastruktur ini diambil dari nama judul novel klasik?

Baca Juga: Sempat Mandek 9 Tahun, Proyek Jembatan di Kutai Timur Kalimantan Timur Ini Diperkirakan Bakal Rampung 2024

Rupanya sekitar lokasi pembangunan jembatan ini tersebar jejak nyata yang dipercaya masyarakat Padang sebagai perwujudan nyata novel ‘Siti Nurbaya’.

Mulai dari sebuah makam yang jaraknya berada 500 meter dari infrastruktur legendaris ini yang diyakini warganya sebagai makam Siti Nurbaya hingga lokasi yang diyakini sebagai kediaman Marah Rusli.

Melansir dari laman DJKN Kemenkeu, Jembatan Siti Nurbaya di Kota Padang ini memiliki bentang panjang 156 meter.

Baca Juga: Ada Sejak 1986, Jembatan di Samarinda Kalimantan Timur Punya 6 Bentang, Pembangunan Libatkan Teknologi Belanda

Anggaran pembangunannya pun fantastis bukan main buat seukuran infrastruktur yang mulai dibangun tahun 1995 dan rampung tujuh tahun kemudian.

Biaya pembangunan infrastruktur ikonik ini rupanya menghabiskan dana sebesar Rp19,8 miliar dengan sumber pendanaan yang berasal dari empat sumber.

Sumber pembiayaan Jembatan Siti Nurbaya ini berasal dari dana APBN, APBD Sumatera Barat, dibantu pula dari pendanaan Asian Development Bank (ADB), dan Overseas Economic Cooperation Fund (OECF).

Peresmian jalan yang melayang lintasi sungai eksotis ini rupanya bertepatan pada era Pemerintahan Soeharto.

Menariknya, jauh sebelum jembatan ini dibangun, dahulu nama novelnya yang bertuliskan Siti Noerbaja alias Siti Nurbaya ini sempat dibuat film pertamanya pada tahun 1942.

Film di zaman Pemerintahan Hindia Belanda ini disutradari oleh Lie Tek Swie yang mengadaptasi novel karya masterpiece Marah Roesli tahun 1922.

Hingga kini, Jembatan Siti Nurbaya masih menjadi infrastruktur kebanggan warga Padang, bahkan banyak dari masyarakat berburu pemandangan indah dari area bangunan megah dan bersejarah tersebut.***

Rekomendasi