

inNalar.com- Keberadaan Bendungan, memang menjadi salah satu komponen penting bagi suatu daerah.
Sebagaimana berbagai macam fungsi dari bendungan, yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Seperti menyimpan cadangan air, mencegah banjir, dan menyediakan irigasi.
Oleh karena itu, banyak pembangunan bendungan yang masuk dalam proyek Strategis Nasional atau PSN, yang digarap pemerintah.
Melansir dari Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas, salah satu PSN yang masuk dalam tanggung jawab kementerian PUPR, adalah bendungan yang berada di Aceh.
Proyek ini sebenarnya sudah direncanakan pemerintah mulai tahun 2025 lalu, dengan skema pendanaan APBN.
Yakni sebesar Rp 2,68 triliun, yang dilaksanakan secara bertahap melalui 4 paket. Bendungan ini rencananya memiliki daya tampung khusus banjir sekitar 30,39 juta m3 atau sebesar 501,49 m3/detik.
Baca Juga: Ayah Mahasiswa Unair Yakin Korban Tewas Bunuh Diri, Bentuk Tulisan di Surat Wasiatnya Sama Persis
Selain itu, juga dapat difungsikan untuk menyediakan air irigasi yang mampu mengaliri lahan seluas 9.420 hektar yang terdiri dari intensifikasi Daerah Irigasi seluas 2.743 hektar.
Namun dalam pelaksanaannya, pembangunan bendungan sempat mengalami kendala akibat pembebasan lahan di sekitar proyek beberapa tahun.
Karena keberadaannya yang diproyeksikan memiliki multifungsi, dan diperkirakan menjadi yang terbesar di Sumatera, Kementerian PUPR kini mengupayakan kembali pembangunannya.
Sebanyak 13 bendungan di Indonesia ditargetkan Kementerian PUPR, akan rampung pada tahun ini, salah satunya berada di Aceh ini.
Bendungan ini bernama Keureuto, yang
pengerjaannya melibatkan beberapa perusahaan kontraktor.
Seperti PT. Brantas Abipraya Persero dan PT. Pelita Nusa Perkasa (KSO) untuk pengerjaan paket 1, PT. Wijaya Karya Persero Tbk untuk paket 2, PT.Hutama Karya-Perapen untuk paket 3, serta Abipraya-Indra-Nusa, KSO untuk paket penyelesaian.
Pemerintah melalui kementerian PUPR mengharapkan bendungan ini dapat meningkatkan produktivitas sektor pertanian Indonesia.
Nantinya petani yang bisa mengandalkan suplai air dari tadah hujan, dapat terpenuhi melalui irigasi berkelanjutan. Sehingga intensitas tanam juga dapat naik dari yang semula 137% menuju ke 254%, dengan skala panen dari sekali setahun menjadi 2-3 kali panen.
Harapan perubahan besar tersebut, dengan adanya bendungan ini sangat dinanti oleh pemerintah dan masyarakat Aceh.
Menurut Biro Administrasi pembangunan pemerintah Aceh pada awal tahun 2023 lalu, progres pembangunan bendungan ini di lapangan masih mencapai 53%, ketika awal hendak dilanjutkan.
Namun saat ini, pengerjaan proyek bendungan Keureuto masih dianggap berjalan lambat meski dalam tahap penerusan yang diupayakan pemerintah melalui Kementerian PUPR.
Demikianlah gambaran proyek bendungan di Aceh yang akan dibangun kembali pada tahun 2023.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi