

inNalar.com – Kantor media pemerintah di Gaza telah mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan bahwa perusahaan yang memasok listrik di wilayah Palestina dapat ditutup dalam beberapa jam kedepan.
Hal ini dikarenakan situasi perang antara Israel dan Hamas yang terus berlanjut,sehingga mengakibatkan kehabisan bahan bakar yang ada di Jalur Gaza.
Wilayah Palestina yang dihuni lebih dari dua juta orang telah mengalami pemadaman listrik selama berhari-hari, menyusul serangan mendadak Hamas di Israel.
Termasuk rumah sakit dan tempat penampungan nantinya terpaksa harus beroperasi tanpa aliran listrik.
Sejak adanya serangan pada hari Sabtu 7 Oktober 2023 kemarin, pemerintah Israel telah menyatakan akan memberlakukan blokade total di Gaza.
Hal itu mengakibatkan larangan transportasi makanan, air dan bahan bakar, yang mengancam ratusan ribu warga Palestina yang tinggal di wilayah tersebut.
Dilansir inNalar.com dari AlJazeera, Seluruh saluran listrik tersebut memasok jalur Gaza yang berasal dari Israel, dengan mengoperasikan tiga turbin yang menghasilkan sekitar 65 megawatt.
Selain itu adanya defisit permintaan listrik hingga 80 persen di Gaza yang merupakan rumah begi lebih 2 juta orang.
Sejauh ini perang antara Israel dan Hamas masih terus berlanjut, bahkan juru bicara militer Israel mengungkap jika kini sebanyak 300.000 tentara telah ditempatkan di dekat Jalur Gaza untuk berperang dengan Hamas.
Lebih dari 260.000 orang kini telah mengungsi di Gaza, dan lebih dari 175.000 orang mengungsi di 88 sekolah PBB, dan jumlah tersebut terus meningkat seiring dengan berlanjutnya serangan udara.
Menurut Kementerian Kesehatan mencatat jika warga Palestina yang tewas telah mencapai angka 900 orang sementara jumlah korban di Israel meningkat menjadi 1.200 orang.
Serangan udara Israel telah meratakan bangunan di lingkungan utara Al Karama di Gaza dan Al Jazeera, mengetahui bahwa petugas medis tidak dapat mengakses daerah tersebut karena serangan tersebut.
Sementara itu Israel telah mengerahkan puluhan ribu unit tambahan, termasuk infanteri, pasukan khusus, dan korps artileri ke perbatasan dengan Lebanon untuk melawan serangan apa pun dari kelompok Hizbullah Lebanon.
Hal ini dilakukan setelah serangkaian roket ditembakkan dari Lebanon selatan menuju Israel dan lebih banyak lagi peluru yang diluncurkan dari wilayah Suriah mendarat di area terbuka di Israel pada hari Selasa lalu. ***